![]() |
| Infografis BMKG Stasiun Meteorologi Maritim Tenau–Kupang tentang peringatan dini banjir pesisir (rob) yang berpotensi terjadi di wilayah pesisir NTT pada 27–29 Januari 2026. |
Kupang NTT-Banjir rob NTT dan gelombang tinggi berpotensi terjadi secara bersamaan di sejumlah wilayah pesisir Nusa Tenggara Timur. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melalui Stasiun Meteorologi Maritim Tenau–Kupang mengeluarkan peringatan dini cuaca maritim yang perlu menjadi perhatian serius masyarakat pesisir dan pelaku pelayaran.
BMKG mengingatkan adanya potensi banjir pesisir (rob) yang diperkirakan terjadi pada 27 hingga 29 Januari 2026. Banjir rob merupakan peristiwa naiknya permukaan air laut ke daratan pesisir pantai akibat pasang maksimum air laut, yang dalam kondisi tertentu dapat diperparah oleh curah hujan tinggi, sehingga menyebabkan genangan di kawasan pesisir.
Potensi banjir rob ini dipengaruhi oleh fenomena Fase Bulan Baru pada 19 Januari 2026 yang berpeluang meningkatkan ketinggian muka air laut hingga mencapai kondisi maksimum. Berdasarkan hasil pemantauan prediksi pasang surut, kecepatan angin, tinggi gelombang, serta potensi hujan sedang hingga lebat, BMKG menilai dinamika pesisir di wilayah Nusa Tenggara Timur cukup signifikan.
Wilayah pesisir yang diprediksi terdampak banjir rob meliputi pesisir Pulau Flores–Alor, pesisir Pulau Sumba, pesisir Pulau Sabu–Raijua, serta pesisir Pulau Timor–Rote. Masyarakat di wilayah tersebut diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi genangan air laut, terutama pada jam-jam pasang tertinggi.
Selain ancaman banjir rob, BMKG juga mengeluarkan peringatan dini gelombang laut di perairan Nusa Tenggara Timur. Gelombang setinggi 1,25 hingga 2,5 meter berpeluang terjadi di Selat Sape bagian utara dan selatan, Perairan Utara Flores, Selat Flores–Lamakera, Selat Pantar, Selat Alor, Perairan Selatan Alor–Pantar, Selat Sumba bagian timur, Perairan Utara Timor, serta Selat Pukuafu.
Sementara itu, gelombang lebih tinggi dengan ketinggian 2,5 hingga 4,0 meter berpeluang terjadi di Perairan Selatan Flores, Selat Ombai, Selat Sumba bagian barat, Laut Sawu, Perairan Selatan Sumba, Perairan Utara Sabu–Raijua, Perairan Utara Kupang–Rote, Perairan Selatan Sabu–Raijua, serta Perairan Selatan Timor–Rote.
BMKG menegaskan bahwa kondisi ini berisiko terhadap keselamatan pelayaran. Perahu nelayan berisiko apabila kecepatan angin mencapai 15 knot dengan tinggi gelombang 1,25 meter, kapal tongkang berisiko saat angin mencapai 16 knot dan gelombang 1,5 meter, sedangkan kapal ferry berisiko ketika angin mencapai 21 knot dan tinggi gelombang 2,5 meter.
Kombinasi banjir rob dan gelombang tinggi berpotensi mengganggu aktivitas masyarakat pesisir, mulai dari permukiman pesisir, kegiatan bongkar muat di pelabuhan, pelayaran antarpulau, tambak garam, hingga aktivitas perikanan darat. BMKG mengimbau masyarakat pesisir dan pelaku pelayaran untuk selalu waspada, menyesuaikan rencana aktivitas laut, serta memantau pembaruan informasi cuaca maritim resmi.
Kewaspadaan dan kesiapsiagaan masyarakat menjadi kunci utama menghadapi ancaman banjir rob dan gelombang tinggi di pesisir NTT.
BMKG mengimbau agar seluruh aktivitas laut mengutamakan keselamatan dan mengikuti peringatan dini cuaca maritim.
Sinergi informasi cuaca yang akurat diharapkan mampu meminimalkan risiko kerugian dan kecelakaan laut di Nusa Tenggara Timur.
✒️: kl
Sumber Informasi: BMKG – Stasiun Meteorologi Maritim Tenau Kupang
