Masuk

Notification

×

Iklan

Tag Terpopuler

Negara Hadir di Kamera, Absen di Tindakan: Kisah Tika, Difabel di Doreng

Minggu, 18 Januari 2026 | Januari 18, 2026 WIB Last Updated 2026-01-18T05:56:30Z

 

Kisah Tika, penyandang disabilitas di Doreng yang 15 tahun menahan sakit tanpa layanan kesehatan memadai. Negara hadir di kamera, absen di tindakan.


Maumere, NTT, 18/1— Di Desa Wolomotong, Dusun Maget Legar, RT/RW 005/003, Kecamatan Doreng, Kabupaten Sikka, hidup seorang perempuan difabel bernama Kolaka Angelina Woga (30), akrab disapa Tika. Selama hampir 15 tahun, Tika menahan pembengkakan di bagian pipi yang kian membesar dan menimbulkan rasa sakit, tanpa kepastian penanganan medis yang layak.


Tika tinggal bersama ibunya, seorang janda yang menghidupi tiga anak dengan berjualan makanan kecil. 


Sejak masih duduk di bangku Sekolah Dasar, pembengkakan di wajah Tika mulai muncul dan terus memburuk seiring waktu. Namun keterbatasan ekonomi, minimnya akses kesehatan, serta kondisi disabilitas yang dialami Tika membuat upaya pengobatan tak pernah benar-benar terwujud.


Ibunda Tika mengaku sudah berulang kali berharap pada bantuan pemerintah. Bahkan, menurutnya, pihak dinas terkait pernah datang ke rumah mereka, melakukan pendataan, mengambil keterangan, dan memotret kondisi Tika. Ironisnya, semua proses itu berhenti tanpa kelanjutan.


“Kami sudah didata, sudah difoto, tapi sampai sekarang tidak ada kabar lanjutan,” ujar sang ibu dengan nada lirih.


Kisah Tika menjadi gambaran nyata bagaimana kehadiran negara sering berhenti pada seremoni administratif, tanpa keberlanjutan layanan yang menyentuh kebutuhan paling mendasar warga difabel: kesehatan dan perlindungan sosial.


Di wilayah pedesaan seperti Doreng, penyandang disabilitas kerap terjebak dalam lingkaran ketidakpastian—didata, dicatat, namun tak pernah benar-benar ditangani. Padahal, hak atas layanan kesehatan merupakan hak konstitusional setiap warga negara, tanpa kecuali.


Selama 15 tahun, Tika bukan hanya menahan rasa sakit, tetapi juga menunggu jawaban atas janji-janji perlindungan yang tak kunjung tiba.


 Kisah ini menjadi pertanyaan terbuka bagi pemerintah daerah: sampai kapan negara hanya hadir di kamera, tetapi absen dalam tindakan nyata?