Masuk

Notification

×

Iklan

Tag Terpopuler

Panggilan Imamat dan Pembangunan Kota Bertemu di Sikumana

Kamis, 08 Januari 2026 | Januari 08, 2026 WIB Last Updated 2026-01-08T14:52:26Z

 

Wali Kota Kupang dr. Christian Widodo hadir dan menyampaikan sambutan dalam syukuran pentahbisan Imam Baru RD. Christian D.J. Sogen di Sikumana. 📸 : Econ Saudale


Wali Kota Kupang, dr. Christian Widodo, menegaskan bahwa membangun sebuah kota tidak semata-mata soal infrastruktur fisik, tetapi juga tentang membangun manusia dan spiritualitas warganya. Hal tersebut disampaikannya dalam acara Syukur Pentahbisan Imam Baru RD. Christian D.J. Sogen, yang berlangsung di Gereja Paroki Santa Familia Sikumana, Rabu (7/1).


Acara tersebut turut dihadiri Pastor Paroki Santa Familia Sikumana Kupang, Pater Sebast Wadjang, SVD, para imam konselebran, para biarawan dan biarawati, orang tua Yubilaris, Ketua Dewan Paroki Santa Familia Sikumana beserta para ketua wilayah dan ketua KUB, tokoh agama, tokoh perempuan, tokoh pemuda, dan umat Paroki Santa Familia Sikumana Kupang.


“Membangun sebuah kota ini, bagi saya, bukan hanya menghadirkan jalan-jalan yang bagus atau kantor yang mewah. Membangun sebuah kota juga berarti membuat penduduknya saling menghormati satu sama lain, menghargai orang lain, menghargai perbedaan dalam iman, serta memastikan setiap orang memiliki tempat ibadah yang aman dan nyaman,” ujar Wali Kota dalam sambutannya.


Ia menekankan bahwa kualitas sebuah kota juga sangat ditentukan oleh kondisi spiritual masyarakatnya. Karena itu, menurutnya, kehadiran imam baru merupakan anugerah penting bagi kehidupan iman sekaligus bagi pembangunan sosial Kota Kupang. “Bagaimana dengan spiritualitas penduduknya di kota itu. Jadi, terima kasih, kami sudah punya imam baru lagi,” ungkapnya.


Dalam refleksinya tentang panggilan imamat, Wali Kota Kupang menyampaikan pandangan yang mendalam. Menurutnya, menjadi imam bukanlah soal posisi atau kedudukan, melainkan tentang kerendahan hati dan pengabdian. “Menjadi imam ini bukan berarti menjadi lebih tinggi dari yang lain, tetapi menjadi turun lebih dalam. Lebih dalam dalam doa, lebih dalam dalam pengorbanan, lebih dalam dalam ketulusan, lebih dalam dalam pelayanan, dan lebih dalam dalam keberanian, meskipun kadang jalannya sunyi dan terasa berat,” katanya.


Pada kesempatan itu, dr. Christian Widodo juga menyampaikan rasa bangga dan apresiasinya kepada imam yang baru ditahbiskan. Ia berharap panggilan imamat yang dijalani dapat terus diteguhkan dengan ketulusan dan keberanian. “Harapan saya ke depan, semoga panggilan ini terus dijalankan dengan penuh keteguhan, ketulusan hati, dan keikhlasan. Kadang memang kita harus berani, dan keberanian itu sering kali berarti tidak selalu disukai oleh semua orang,” tuturnya.


Lebih lanjut, Wali Kota menegaskan komitmen Pemerintah Kota Kupang untuk terus membuka ruang kerja sama dan kolaborasi dengan seluruh elemen masyarakat, termasuk unsur keagamaan. “Pemerintah Kota Kupang selalu terbuka terhadap semua kerja sama dan kolaborasi, dengan semua unsur agama, komunitas, LSM, partai politik, gereja, masjid, dan seluruh elemen masyarakat. Di tengah keterbatasan dan tantangan, kita membutuhkan kerja kolaboratif dari semua pihak,” tegasnya.


Ia mengibaratkan pembangunan kota sebagai perjalanan panjang yang hanya dapat ditempuh bersama-sama. “Kalau mau berjalan cepat, berjalanlah sendirian. Tapi kalau mau berjalan jauh, berjalanlah bersama-sama. Yang satu capek, yang lain gendong. Pemerintah tidak bisa berjalan sendirian,” ujar Wali Kota.


Menutup sambutannya, dr. Christian Widodo mengutip sebuah pepatah Latin yang menegaskan pentingnya persatuan. “Dalam bahasa Latin dikatakan, ubi concordia, ibi victoria. Di dalam kesatuan, kita menemukan kemenangan,” pungkasnya.


Dalam ungkapan hatinya, RD. Christian D.J. Sogen membagikan refleksi perjalanan panggilan imamat yang tumbuh secara perlahan sejak masa kanak-kanak. Ia mengisahkan bagaimana panggilan itu lahir di tengah proses pencarian jati diri, keraguan, dan mimpi-mimpi sederhana sebagaimana dialami banyak anak seusianya.


Perjalanan itu tidak terjadi seketika. Panggilan tersebut diteguhkannya pada tahun 2012, saat ia melangkah bersama puluhan rekan seperjalanan dalam masa formasi. “Kami datang dari latar belakang dan cerita panggilan yang berbeda-beda, tetapi disatukan dalam satu perjalanan yang sama. Dari tidak tahu apa-apa, kami belajar, jatuh, bangkit, dan dibentuk sedikit demi sedikit,” katanya.


RD. Christian D.J. Sogen juga menyampaikan terima kasih yang mendalam kepada orang tua, keluarga besar, para imam pembimbing, rekan-rekan seangkatan, para pendidik, panitia, dan seluruh umat yang setia mendoakan dan mendukungnya. “Saya tidak berjalan sendirian. Di belakang saya ada begitu banyak doa, pengorbanan, dan cinta yang menopang langkah saya hingga hari ini. Tahbisan ini bukan milik saya sendiri, tetapi milik kita semua,” pungkasnya dengan penuh syukur.

✍🏼 : Chris Dethan