![]() |
| Kepala SMPN 13 Kota Kupang, Yusak Ola, S.Pd., menjelaskan kesiapan sekolah menghadapi penerapan Tes Kemampuan Akademik (TKA) Nasional 2026 di Kota Kupang, Selasa (25/2/2026). |
Kota Kupang, NTT, 25 Februari 2026 – Penerapan Tes Kemampuan Akademik (TKA) Nasional 2026 menjadi perhatian serius dunia pendidikan. Kepala Sekolah SMP Negeri 13 Kota Kupang, Yusak Ola, S.Pd., menegaskan bahwa TKA bukan sekadar ujian biasa, tetapi instrumen pemetaan kompetensi siswa secara nasional.
Menurut Yusak Ola, pemerintah melalui Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah memiliki program Tes Kemampuan Akademik siswa yang dilakukan secara bersamaan bagi seluruh peserta didik, baik tingkat SD, SMP maupun SMA. Untuk jenjang SMP, TKA dijadwalkan berlangsung pada 6–16 April mendatang.
Ia menjelaskan, Tes Kemampuan Akademik dimaksudkan untuk memetakan prestasi dan kompetensi siswa di satu daerah maupun satu satuan pendidikan. Dengan pemetaan tersebut, pemerintah dapat membandingkan kualitas antar sekolah dan antar daerah secara objektif. Hasil TKA juga akan digunakan sebagai salah satu instrumen seleksi di jenjang pendidikan yang lebih tinggi.
“Selama ini sistem penerimaan siswa baru lebih banyak menggunakan sistem zonasi. Tetapi bukan hanya zonasi, ada juga jalur prestasi akademik, perpindahan orang tua, dan afirmasi. Nah, TKA ini nantinya menjadi bagian penting dalam jalur prestasi akademik,” jelasnya.
Meski demikian, Yusak menegaskan bahwa penentuan kelulusan siswa tetap berdasarkan ujian sekolah. Ujian sekolah diselenggarakan di masing-masing satuan pendidikan dan menjadi dasar utama kelulusan melalui rapat dewan guru. Untuk Kota Kupang, ujian sekolah biasanya dilaksanakan serentak dengan soal yang sama, disusun oleh pemerintah kota melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan.
Sementara itu, TKA hanya menguji dua mata pelajaran, yakni Matematika dan Bahasa Indonesia. Matematika mewakili aspek numerasi, sedangkan Bahasa Indonesia mewakili literasi siswa. Soal-soal TKA disusun langsung oleh kementerian dan bersifat nasional.
“Untuk TKA, ini bukan menentukan lulus atau tidak lulus. Ini untuk memetakan kemampuan siswa dan menjadi dasar seleksi ke tingkat yang lebih tinggi,” tegasnya.
Menghadapi sistem baru ini, SMPN 13 Kota Kupang tidak tinggal diam. Sejak Februari, pihak sekolah telah melakukan pembimbingan dan pendampingan intensif kepada siswa. Sekolah juga menyiapkan try out bersama yang akan dilaksanakan pada bulan Maret secara serempak dan berbasis sistem online menggunakan perangkat komputer di masing-masing sekolah.
Yusak mengakui bahwa soal-soal TKA berada pada level yang cukup menantang. Karena itu, pihak sekolah diminta oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan untuk mempersiapkan siswa secara maksimal melalui pembahasan kisi-kisi dan latihan soal yang sesuai standar kementerian.
“Anak-anak kami dampingi sejak awal. Mereka dibimbing memahami kisi-kisi, membahas soal-soal yang biasanya dipakai, sehingga mereka mengetahui tingkat kesiapan dan kemampuan mereka sendiri,” ujarnya.
Saat ini, SMPN 13 Kota Kupang bahkan telah memasuki tahap simulasi hari kedua sebagai bagian dari persiapan menghadapi penerapan sistem baru TKA.
Menurutnya, perbedaan mendasar TKA dibanding ujian sebelumnya adalah sifatnya yang nasional. Jika sebelumnya siswa hanya berkompetisi di tingkat satuan pendidikan, kini mereka dituntut berpikir dan bersaing di level nasional.
“Kalau ini sifatnya nasional, maka harapan kami anak-anak juga berpikir secara nasional dan berusaha untuk bersaing secara nasional. Dengan penerapan sistem ini, siswa lebih berusaha untuk memiliki kompetensi akademik yang bisa diperhitungkan secara nasional,” tandasnya.
Ia berharap penerapan Tes Kemampuan Akademik Nasional 2026 benar-benar mampu mendorong peningkatan kualitas pendidikan dan daya saing siswa di tingkat nasional.
✒️:;kl
