![]() |
Oleh: Endang Hastuty Bunga, S.H.
(Pengacara Muda, Aktivis Perempuan dan Anak
Ketua Tunas Himpunan Advokat Muda Indonesia (HAMI) Bali)
Setiap 14 Februari, ruang-ruang publik dipenuhi simbol cinta: bunga, cokelat, dan nuansa merah muda. Perayaan Hari Valentine seakan menjadi momentum tahunan untuk menunjukkan kasih sayang secara terbuka dan simbolik. Namun bagi saya, sebagai pengacara muda sekaligus aktivis perempuan dan anak, makna Hari Kasih Sayang tidak berhenti pada seremoni dan simbol material semata.
Valentine seharusnya menjadi ruang refleksi. Sebuah pengingat bahwa cinta pertama dan utama adalah kepada diri sendiri dengan menjaga harga diri, merawat kesehatan mental, serta menegaskan batas yang sehat dalam setiap relasi. Cinta sejati bukanlah euforia sesaat yang dirayakan setahun sekali, melainkan kesadaran harian untuk hidup dalam ketenangan, tanpa drama dan tanpa kebutuhan akan validasi semu.
Dalam praktik pendampingan hukum yang saya jalani, tidak sedikit persoalan yang bermula dari relasi yang tampak “manis” di permukaan.
Fenomena di kalangan anak muda menunjukkan bahwa simbol-simbol Valentine kerap disalahgunakan sebagai pintu masuk manipulasi emosional. Rayuan, hadiah, dan perhatian sesaat dapat berubah menjadi tekanan, eksploitasi, bahkan kekerasan berbasis relasi. Perempuan terutama yang masih mencari pengakuan sering kali menjadi pihak yang paling rentan.
Ini bukan soal menolak cinta. Ini tentang memahami bahwa cinta tidak pernah memaksa, tidak menekan, dan tidak merendahkan martabat. Jika sebuah hubungan menghadirkan rasa takut, kehilangan harga diri, atau tekanan psikologis, maka itu bukan kasih sayang, melainkan bentuk dominasi yang terselubung.
Sebagai Ketua Tunas Himpunan Advokat Muda Indonesia (HAMI) Bali, saya mengajak seluruh perempuan untuk memaknai Valentine sebagai momentum penguatan nilai diri.
Perempuan berhak dicintai tanpa manipulasi, tanpa tekanan, dan tanpa eksploitasi atas nama perasaan. Perempuan bukan objek pujian musiman, melainkan pribadi utuh yang bermartabat dan layak dihormati setiap saat.
Kasih sayang yang sehat tumbuh dalam rasa syukur kepada Tuhan, dalam penghormatan terhadap diri sendiri, dan dalam komitmen memperlakukan sesama secara adil dan beradab.
Sudah saatnya kita berhenti mengukur cinta dari cokelat dan bunga semata. Yang jauh lebih penting adalah konsistensi sikap, tanggung jawab, serta keberanian menolak relasi yang merugikan.
Valentine seharusnya menjadi pengingat bahwa cinta sejati hidup dalam tindakan sehari-hari dalam integritas, perlindungan terhadap yang lemah, dan keberanian melawan ketidakadilan. Kasih sayang yang bermartabat tidak menunggu tanggal di kalender. Ia hadir setiap hari, dalam kesadaran untuk menjaga diri dan menghormati sesama.
Karena pada akhirnya, perempuan yang kuat adalah perempuan yang mengetahui nilai dirinya dan tidak pernah menukarnya dengan pujian semu.
