![]() |
| Bupati Rote Ndao Paulus Henuk meninjau langsung tumpukan obat di gudang farmasi daerah yang merupakan akumulasi pengadaan tahun 2021–2024, saat sidak yang videonya diunggah ke Facebook empat jam lalu. |
Rote Ndao, NTT— Rekaman inspeksi mendadak (sidak) Bupati Rote Ndao Paulus Henuk ke gudang farmasi daerah yang diunggah ke media sosial Facebook sekitar empat jam lalu, langsung menyedot perhatian publik. Video tersebut memperlihatkan fakta serius: stok obat hasil pengadaan tahun 2021 hingga 2024 menumpuk dalam jumlah besar, sementara sebagian di antaranya telah kedaluwarsa.
Unggahan tersebut memicu reaksi luas karena selama ini masyarakat dan puskesmas justru mengeluhkan keterbatasan obat. Dalam video yang beredar, Bupati terlihat menelusuri langsung tumpukan kardus obat dan berdialog dengan pengelola gudang farmasi.
“Paracetamol ini kan selalu disebut kurang. Tapi lihat stok begini banyak. Tahun lalu ada, dua tahun lalu ada, tiga tahun lalu ada. Kok sekarang expired banyak-banyak,” ujar Bupati dalam rekaman tersebut.
Akumulasi Pengadaan 2021–2024 Terungkap
Bupati menegaskan, obat-obatan yang ditemukan bukan berasal dari satu tahun anggaran. Berdasarkan keterangan di lokasi, stok tersebut merupakan akumulasi pengadaan lintas tahun sejak 2021, 2022, 2023 hingga 2024.
Menurutnya, kebijakan pengadaan dalam jumlah besar tanpa perhitungan kebutuhan riil pelayanan kesehatan justru menimbulkan persoalan baru.
“Ini karena pengadaannya tidak proporsional. Jenis tertentu dibeli banyak, jenis tertentu sedikit, bahkan ada yang dibiarkan kosong,” tegasnya.
Ia menyebut kondisi ini sebagai bentuk pengelolaan yang tidak profesional, karena tidak berbasis data konsumsi obat dan kebutuhan puskesmas.
Gudang Penuh, Puskesmas Kekurangan
Dalam sidak yang terekam dan tersebar di Facebook tersebut, Bupati juga menyoroti ketimpangan distribusi obat. Ia menegaskan bahwa stok yang menumpuk seharusnya segera dialihkan ke fasilitas kesehatan yang membutuhkan.
“Kalau di satu puskesmas stoknya kurang, sementara di puskesmas lain banyak, itu bisa dikonsolidasi dan dikirimkan. Jangan sampai numpuk di gudang atau puskesmas sampai kadaluarsa,” ujarnya.
Anggaran Terbatas, Obat Terbuang
Bupati mengaku prihatin karena kondisi ini terjadi di tengah keterbatasan anggaran daerah.
“Bayangkan kita kekurangan uang, tapi obat kita buang-buang karena expired. Ini tidak masuk akal,” katanya.
Ia menegaskan, pengadaan obat seharusnya diarahkan untuk memenuhi kebutuhan riil, bukan membeli stok hingga empat atau lima tahun ke depan.
Dorong Kontrol Digital
Dalam rekaman yang diunggah, pengelola gudang menyampaikan bahwa pihaknya telah bekerja sama dengan Kominfo untuk membangun sistem aplikasi pengendalian stok obat. Sistem ini diharapkan mampu memantau distribusi, penggunaan, hingga masa kedaluwarsa obat secara real time.
Namun Bupati menegaskan bahwa teknologi tidak akan efektif tanpa perencanaan pengadaan yang tepat sejak awal.
Instruksi Tegas
Menutup sidak, Bupati Paulus Henuk meminta seluruh data pengadaan dan distribusi obat periode 2021–2024 disiapkan secara lengkap dan transparan untuk evaluasi.
“Bikin datanya baik. Pengadaan harus proporsional antara kebutuhan dan anggaran. Jangan sampai kejadian seperti ini terulang,” tegasnya.
Unggahan video sidak ini menjadi peringatan terbuka bahwa persoalan kesehatan bukan hanya soal ketersediaan obat, tetapi juga soal akuntabilitas dan perencanaan lintas tahun anggaran.
✒️: kl
