FLORES TIMUR, NTT, 12 Juni 2026 – Di tengah perjuangan memulihkan kehidupan pasca-erupsi Gunung Lewotobi, ratusan petani di Kecamatan Wulanggitang menunjukkan keteguhan hati mereka. Dengan penuh hormat dan harapan, mereka menyambut kedatangan Wakil Ketua Umum Tani Merdeka Indonesia (TMI), Wilfridus Yons Ebit, melalui ritual adat Wajak Wua'Malu', sebuah tradisi penghormatan kepada tamu yang datang membawa niat baik bagi masyarakat.
Prosesi adat yang berlangsung di Sekretariat Korcam TMI Wulanggitang itu berlangsung khidmat dan penuh makna. Bagi masyarakat setempat, Wajak Wua'Malu' bukan sekadar seremoni penyambutan, melainkan simbol penghormatan, penerimaan, persaudaraan, serta doa agar tamu yang datang dapat membawa manfaat dan harapan bagi masyarakat.
Menariknya, penyambutan tersebut dipersiapkan secara mendadak. Ketua Korcam TMI Wulanggitang, Emanuel Boruk, mengungkapkan bahwa koordinasi dengan kelompok-kelompok tani baru dilakukan sekitar pukul 02.00 dini hari.
"Kami baru berkoordinasi dengan kelompok-kelompok tani sekitar pukul dua dini hari. Karena kerinduan petani untuk bertemu dan menyampaikan harapan mereka kepada Pak Yons Ebit, semua bergerak cepat. Puji Tuhan, masyarakat hadir dengan antusias yang luar biasa," ujar Emanuel Boruk.
Para petani yang hadir merupakan kelompok-kelompok tani yang terdampak erupsi Gunung Lewotobi. Selama ini mereka harus berjuang menghadapi berbagai kesulitan akibat bencana yang berdampak pada lahan pertanian, hasil panen, dan perekonomian keluarga.
Dalam dialog yang berlangsung penuh keakraban, berbagai aspirasi disampaikan kepada Yons Ebit. Salah satu suara yang paling menyentuh datang dari Yanto Lewar, perwakilan Kelompok Tani Ame Tou.
"Kami adalah petani yang terkena dampak erupsi Lewotobi. Selama ini kami belum pernah mendapatkan bantuan pertanian. Tetapi kami yakin, dengan hadirnya Bapak Yons Ebit bersama Tani Merdeka Indonesia, petani kami akan kembali tersenyum," ungkap Yanto Lewar.
Pernyataan tersebut menggambarkan harapan besar para petani yang selama ini merasa berjuang sendiri menghadapi berbagai tantangan. Meski belum pernah merasakan bantuan pertanian yang memadai, mereka tidak kehilangan keyakinan bahwa perubahan akan datang.
Mendengar langsung kisah dan harapan para petani, Yons Ebit tampak terharu. Baginya, penghormatan melalui ritual Wajak Wua'Malu' merupakan amanah yang harus dijawab dengan kerja nyata dan perjuangan bagi kesejahteraan petani.
"Saya sangat terharu dengan sambutan ini. Kehormatan yang diberikan masyarakat melalui Wajak Wua'Malu' adalah amanah besar. Saya melihat semangat luar biasa dari para petani yang tetap kuat meski menghadapi dampak erupsi. Tani Merdeka Indonesia akan terus hadir dan berjuang bersama petani," tegas Yons Ebit.
Kunjungan tersebut menjadi lebih dari sekadar agenda organisasi. Di tengah luka yang masih tersisa akibat erupsi Lewotobi, para petani Wulanggitang menemukan ruang untuk menyampaikan harapan mereka.
Mereka percaya bahwa perhatian, pendampingan, dan perjuangan yang dibawa Tani Merdeka Indonesia dapat membantu mengembalikan senyum yang sempat pudar akibat bencana.
Hari itu, di Wulanggitang, Wajak Wua'Malu' bukan hanya menjadi ritual penghormatan bagi seorang tamu. Ia menjadi simbol harapan petani korban erupsi Lewotobi yang ingin bangkit, kembali menanam, kembali panen, dan kembali menatap masa depan dengan optimisme.
✒️: Albert Cakramento
