Masuk

Notification

×

Iklan

Tag Terpopuler

Pukat Nelayan Pantai Baru Hancur, Simson Minta Klarifikasi KMP Kalibodri

Jumat, 05 Juni 2026 | Juni 05, 2026 WIB Last Updated 2026-06-05T02:11:13Z

 


ROTE NDAO, NTT Kerusakan parah yang dialami nelayan di Pantai Baru, Kabupaten Rote Ndao, akibat hancurnya alat tangkap ikan berupa pukat memicu permintaan klarifikasi terhadap KMP Kalibodri. Kejadian tersebut dilaporkan terjadi saat KMP Kalibodri melintas di perairan Pantai Baru pada Kamis (4/6/2026). Anggota DPRD Provinsi Nusa Tenggara Timur, Simson Polin, meminta adanya komunikasi dan penjelasan dari pihak kapal guna mencari solusi bagi nelayan yang mengalami kerugian puluhan juta rupiah.


Permintaan tersebut disampaikan Simson Polin setelah menerima laporan dari para nelayan yang disertai dokumentasi video kondisi pukat yang mengalami kerusakan.


Menurut keterangan nelayan, insiden terjadi saat KMP Kalibodri melintas keluar dari Pelabuhan Pantai Baru pada Kamis (4/6/2026). Para nelayan menilai jalur pelayaran kapal terlalu dekat dengan lokasi yang selama ini digunakan untuk mencari ikan dan memasang alat tangkap.


"Mohon bantu komunikasinya dengan kapten supaya ada solusi untuk mereka. Menurut nelayan, waktu KMP Kalibodri keluar dari Pelabuhan Pantai Baru, jalurnya terlalu rapat dengan lokasi pemasangan pukat nelayan. Padahal lokasi itu setiap hari digunakan masyarakat untuk mencari ikan," ujar Simson Polin.


Ia menjelaskan bahwa selama ini kapal-kapal yang melintas di wilayah tersebut, baik milik ASDP maupun operator pelayaran lainnya, dapat beroperasi tanpa menimbulkan persoalan berarti bagi nelayan. Namun dalam kejadian kali ini, alat tangkap milik nelayan mengalami kerusakan yang cukup serius.


Berdasarkan video dan dokumentasi yang dikirimkan nelayan kepadanya, Simson menilai kondisi pukat mengalami kerusakan berat dan tidak lagi dapat digunakan untuk aktivitas penangkapan ikan.


"Tadi saya coba cek dari video yang dikirimkan nelayan, kerusakannya sangat parah. Pukatnya sama sekali tidak dapat digunakan," katanya.


Menurut informasi yang diperoleh dari nelayan, biaya pengadaan satu unit pukat baru diperkirakan mencapai sekitar Rp100 juta. Namun karena masih terdapat beberapa komponen yang dapat digunakan kembali, seperti pelampung dan sebagian tali, kebutuhan biaya penggantian diperkirakan berkisar Rp50 juta.


Kerusakan tersebut menjadi pukulan berat bagi para nelayan karena alat tangkap tersebut merupakan sumber utama mata pencaharian mereka. Jika tidak segera diganti, aktivitas melaut dan pendapatan keluarga nelayan akan terganggu.


Simson berharap seluruh pihak terkait dapat duduk bersama untuk mencari jalan keluar yang adil bagi nelayan yang terdampak. Ia juga meminta agar komunikasi dengan pihak kapal segera dilakukan sehingga persoalan tersebut dapat diselesaikan secara baik.


Menanggapi laporan yang disampaikan Simson Polin, pihak ASDP memberikan respons awal dan menyatakan akan melakukan penelusuran lebih lanjut terhadap kejadian tersebut.

"Ok, kami mintakan justifikasi pak," demikian tanggapan singkat dari pihak ASDP.


Respons tersebut menunjukkan bahwa pihak ASDP akan terlebih dahulu melakukan klarifikasi dan pengumpulan informasi sebelum mengambil langkah lebih lanjut terkait dugaan insiden yang menyebabkan kerusakan pukat nelayan.


Selain meminta penyelesaian atas kerugian yang dialami nelayan, Simson juga berharap kejadian ini menjadi bahan evaluasi bersama terkait pengaturan jalur pelayaran di sekitar Pantai Baru. Menurutnya, aktivitas transportasi laut dan kegiatan penangkapan ikan harus dapat berjalan berdampingan tanpa menimbulkan kerugian bagi masyarakat pesisir.

✒️: kl