Masuk

Notification

×

Iklan

Tag Terpopuler

7.000 Anak Putus Sekolah Jadi Alarm, PKBM Laskar Pelangi Sikka Resmi Diluncurkan

Sabtu, 25 Juli 2026 | Juli 25, 2026 WIB Last Updated 2026-07-24T17:44:57Z

 



MAUMERE, NTT – Angka sekitar 7.000 anak putus sekolah di Kabupaten Sikka menjadi alarm serius bagi dunia pendidikan. Di balik angka itu, ada ribuan cerita tentang mimpi yang tertunda, bangku sekolah yang terpaksa ditinggalkan, dan masa depan yang masih menunggu kesempatan kedua. Keprihatinan itulah yang melahirkan PKBM Laskar Pelangi Sikka, yang resmi diluncurkan pada Jumat (24/7/2026) dengan membawa satu ajakan sederhana namun penuh makna: “Ayo Kita Sekolah.”


Peluncuran itu bukan sekadar peresmian sebuah lembaga. Bagi mereka yang pernah berhenti sekolah karena berbagai keadaan, kehadiran PKBM Laskar Pelangi Sikka seperti sebuah pintu yang kembali dibuka setelah lama tertutup.


Pesannya sederhana: pernah putus sekolah bukan berarti harus putus harapan.


Ketika 7.000 Bukan Sekadar Angka


Jika hanya ditulis dalam laporan statistik, angka itu mungkin terlihat seperti deretan bilangan biasa. Namun di baliknya terdapat ribuan anak dan warga yang karena berbagai alasan belum berhasil menuntaskan pendidikan.


Ada yang mungkin terhenti karena persoalan ekonomi keluarga. Ada yang harus bekerja. Ada pula yang menghadapi berbagai keadaan sehingga tidak lagi duduk di ruang kelas seperti teman-teman seusianya.


Kondisi itulah yang menggugah sejumlah tokoh masyarakat, pegiat pendidikan, dan relawan untuk menghadirkan sebuah ruang bagi mereka yang ingin kembali belajar.


PKBM Laskar Pelangi Sikka pun lahir membawa semangat bahwa pendidikan tidak boleh berhenti hanya karena seseorang pernah meninggalkan sekolah.


Launching PKBM Laskar Pelangi Sikka dihadiri Wakil Bupati Sikka Simon Subandi Supriadi, jajaran Dinas Pendidikan, Kepemudaan dan Olahraga Kabupaten Sikka, pimpinan OPD, unsur DPRD Kabupaten Sikka, Ketua Yayasan SANPUKAT Keuskupan Maumere, Lurah Beru, pengurus Yayasan Indonesia Bisa Insan Sejati Andalan, pimpinan PKBM, tutor, tokoh masyarakat, orang tua peserta didik, serta tamu undangan lainnya.


Suasana peluncuran diawali dengan penyambutan tamu melalui tarian yang dibawakan siswa-siswi SDK Maumere 3.


Namun di balik kemeriahan seremoni itu, tersimpan pekerjaan besar: bagaimana membawa mereka yang telah meninggalkan sekolah agar berani kembali belajar.


Ketua Panitia, Us Bebu, menegaskan bahwa peluncuran PKBM bukan tujuan akhir.


Baginya, keberhasilan sesungguhnya baru dimulai ketika ruang belajar dibuka dan masyarakat yang pernah putus sekolah kembali memegang buku, mengikuti pembelajaran, dan berani menata masa depan.


“Target kami bukan hanya launching. Yang paling penting setelah hari ini kegiatan belajar mengajar harus segera berjalan. Kami ingin PKBM Laskar Pelangi Sikka menjadi tempat bagi masyarakat yang putus sekolah untuk kembali belajar dan memperoleh kesempatan meraih masa depan yang lebih baik,” ujar Us Bebu.

 

Harapan itu menjadi penting karena tantangan yang dihadapi tidak kecil.


Menjangkau sekitar 7.000 anak putus sekolah tentu tidak dapat dilakukan dalam semalam. Namun sebuah perjalanan panjang selalu membutuhkan langkah pertama.


Dan peluncuran PKBM Laskar Pelangi Sikka menjadi salah satu langkah tersebut.


Ketua Dewan Pembina PKBM Laskar Pelangi Sikka, Yolce Mali, mengatakan gagasan mendirikan PKBM berangkat dari keprihatinan terhadap tingginya angka anak putus sekolah di Kabupaten Sikka.


Keprihatinan itu tidak berhenti menjadi bahan diskusi.


Komunikasi dilakukan dengan Dinas Pendidikan, Kepemudaan dan Olahraga serta berbagai tokoh masyarakat hingga gagasan tersebut perlahan diwujudkan menjadi sebuah lembaga pendidikan nonformal.


PKBM ini berdiri atas persetujuan Andreas Ugo Pereira dan berada di bawah naungan Yayasan Indonesia Bisa.


“Kami melihat begitu banyak anak yang putus sekolah dengan berbagai latar belakang. Karena itu kami merasa terpanggil membangun PKBM agar mereka kembali memperoleh hak atas pendidikan,” kata Yolce.

 

Ia menyadari, menjangkau ribuan anak bukan pekerjaan mudah.


Tetapi pendidikan tidak selalu harus dimulai dengan langkah besar. Satu orang yang kembali sekolah berarti satu harapan kembali dinyalakan.


Sepuluh orang berarti sepuluh masa depan mendapat kesempatan kedua.


Dan jika gerakan itu terus berkembang, angka 7.000 yang hari ini menjadi alarm suatu saat diharapkan dapat terus berkurang.


“Ayo Kita Sekolah”


Ketua PKBM Laskar Pelangi Sikka, Gusti Poa, menegaskan bahwa masyarakat yang putus sekolah bukan berarti kehilangan kemampuan ataupun kecerdasan.


Mereka, menurutnya, sering kali hanya kehilangan kesempatan.


Karena itulah PKBM Laskar Pelangi Sikka hadir menawarkan jalan untuk kembali memperoleh kesempatan tersebut melalui pendidikan kesetaraan Paket A setara SD, Paket B setara SMP, dan Paket C setara SMA, yang dibuka secara gratis sesuai ketentuan program yang berlaku.


Motto “Ayo Kita Sekolah” pun bukan sekadar rangkaian kata.


Ia menjadi ajakan kepada mereka yang mungkin pernah merasa malu karena usia sudah tidak lagi muda, merasa terlambat kembali belajar, atau menganggap pintu pendidikan telah tertutup.


“Tidak ada batas usia untuk memperoleh pendidikan. Belajar adalah hak setiap orang. Ijazah bukan sekadar selembar kertas, tetapi menjadi pintu untuk melanjutkan pendidikan, memperoleh pekerjaan yang lebih baik, meningkatkan keterampilan, membangun usaha, dan meningkatkan kesejahteraan keluarga,” tegas Gusti Poa.


Persoalan putus sekolah tentu tidak dapat diselesaikan oleh satu PKBM seorang diri.


Karena itu, Gusti mengajak kepala desa, lurah, tokoh agama, tokoh adat, tokoh perempuan, organisasi kepemudaan hingga masyarakat untuk menjadi bagian dari gerakan pendidikan.


Mereka diharapkan membantu menemukan dan mengajak warga yang belum menuntaskan pendidikan agar berani kembali belajar.


Dukungan pemerintah dan DPRD Kabupaten Sikka juga dinilai penting agar pendidikan nonformal tidak sekadar menjadi pelengkap, melainkan benar-benar menjadi jembatan bagi masyarakat yang kehilangan kesempatan mengenyam pendidikan formal.


“Mari kita jadikan pendidikan sebagai gerakan sosial. Jangan ada lagi warga Kabupaten Sikka yang kehilangan masa depan hanya karena tidak memiliki kesempatan belajar,” ujarnya.


Kepala SDK Maumere 3, Rufina Deko, S.Pd., yang sekolahnya menjadi lokasi peluncuran, menyampaikan dukungan terhadap keberadaan PKBM Laskar Pelangi Sikka.


Ia berharap lembaga tersebut benar-benar menjadi tempat lahirnya kesempatan kedua bagi anak-anak dan masyarakat yang pernah putus sekolah.


Kini, setelah seremoni peluncuran selesai, pekerjaan sesungguhnya dimulai.


Ada ribuan orang yang harus dijangkau.

Ada mereka yang perlu diyakinkan bahwa kembali belajar bukan sesuatu yang memalukan.


Ada pula mimpi-mimpi lama yang mungkin telah disimpan bertahun-tahun dan menunggu untuk dibuka kembali.


PKBM Laskar Pelangi Sikka memang tidak mungkin menyelesaikan persoalan sekitar 7.000 anak putus sekolah seorang diri.


Namun seperti sebuah pelangi yang muncul setelah hujan, kehadirannya membawa satu pesan penting: selalu ada harapan setelah keadaan sulit.


Sebab pendidikan bukan perlombaan tentang siapa yang paling cepat sampai.


Bagi mereka yang pernah berhenti di tengah perjalanan, yang terpenting adalah masih ada jalan untuk kembali melangkah.


Hari ini, PKBM Laskar Pelangi Sikka tidak sekadar resmi diluncurkan. Sebuah pintu kembali dibuka—agar mereka yang pernah meninggalkan bangku sekolah dapat mengetuknya sekali lagi dan berkata: “Saya ingin kembali belajar.”


Karena pada akhirnya, mimpi memang tidak mengenal kata terlambat.

✒️; Albert Cakramento