Masuk

Notification

×

Iklan

Tag Terpopuler

Di Namosain, Christian Widodo Menemukan Wajah Sebenarnya Kota Kupang

Selasa, 28 Juli 2026 | Juli 28, 2026 WIB Last Updated 2026-07-28T12:41:20Z


Kota Kupang, NTT- Senja belum sepenuhnya turun ketika halaman Kelurahan Namosain telah dipenuhi warna-warni tenun, tarian, musik tradisional, dan senyum masyarakat dari berbagai suku. Tidak ada sekat. Tidak ada rasa asing. Yang terlihat hanyalah orang-orang yang datang dengan identitas berbeda, tetapi berdiri di tempat yang sama sebagai warga Kota Kupang.


Di tengah kemeriahan itu, sebuah mobil berhenti. Wali Kota Kupang, dr. Christian Widodo, turun dengan langkah cepat. Jadwalnya hari itu padat. Tujuh agenda menunggu. Di saat bersamaan, ia juga harus mengawal berbagai persiapan menyambut kedatangan Presiden ke-7 Republik Indonesia, Joko Widodo, ke Kota Kupang.


Namun sore itu, ada satu tempat yang menurutnya tak boleh dilewatkan.


"Saya bilang ke protokol, bagaimanapun caranya, walaupun cuma 10 atau 15 menit, saya harus hadir di Kelurahan Namosain. Ini bentuk cinta dan sayang saya kepada warga Kelurahan Namosain," ucapnya, disambut tepuk tangan panjang dari masyarakat.


Kalimat itu sederhana. Namun bagi warga yang memenuhi arena Festival Budaya Multi Etnis, kehadiran sang wali kota menjadi bukti bahwa sebuah festival bukan sekadar acara seremonial, melainkan ruang perjumpaan antara pemerintah dan rakyatnya.


Christian mengaku telah berkeliling menghadiri berbagai festival budaya di kelurahan-kelurahan Kota Kupang. Namun menurutnya, Festival Budaya Multi Etnis Namosain meninggalkan kesan yang berbeda.


"Sepanjang saya berkeliling ke Festival Kelurahan Budaya, ini masuk salah satu yang terbaik," katanya.


Ucapan itu bukan sekadar pujian atas kemeriahan acara. Ia melihat sesuatu yang lebih dalam daripada tarian, musik, atau pakaian adat yang dipamerkan sore itu.


Di hadapannya berdiri masyarakat dari berbagai etnis, agama, bahasa, dan budaya. Semua larut dalam satu perayaan yang sama.


Bagi Christian, inilah wajah sejati Kota Kupang.


Menurutnya, festival budaya bukan hanya tentang melestarikan tradisi. Festival adalah pengingat bahwa Kota Kupang dibangun di atas keberagaman yang selama ini menjadi kekuatan, bukan kelemahan.


"Keberagaman bukan menjadi penghalang, tetapi menjadi kekuatan. Bukan menjadi jarak, tetapi menjadi jembatan," ujarnya.


Ia kemudian mengajak masyarakat merenungkan arti sebuah harmoni.


Baginya, harmoni bukan berarti semua orang harus sama. Harmoni justru lahir karena adanya perbedaan.


Ia mengibaratkan kehidupan seperti sebuah lagu. Sebuah lagu tidak hanya memiliki satu nada. Ada nada tinggi, ada nada rendah. Ketika semuanya disusun pada tempat yang tepat, lahirlah melodi yang indah.


Begitu pula Kota Kupang.


Ada yang berasal dari Flores, Timor, Rote, Sabu, Alor, Sumba, Jawa, Bugis, Tionghoa, dan berbagai daerah lainnya. Ada yang berkulit hitam, sawo matang, maupun putih. Ada yang berambut lurus maupun keriting. Semuanya berbeda karena memang diciptakan demikian.


"Kita tidak bisa menyeragamkan semua orang. Itu ciptaan Tuhan. Tetapi kita bisa hidup dalam harmoni dan keseimbangan," tuturnya.


Analogi lain pun ia sampaikan.

Ia menunjuk kain tenun yang dikenakan sejumlah tamu.


Setiap helai tenun terdiri dari benang dengan warna, motif, dan pola yang berbeda. Namun ketika ditenun menjadi satu, justru melahirkan karya yang indah dan bernilai tinggi.

"Itulah Kota Kupang," katanya.


Pesan itu kemudian berlanjut menjadi ajakan.


Menurut Christian, masyarakat harus terus merawat kolaborasi. Sebab pembangunan tidak mungkin lahir hanya dari pemerintah atau hanya dari masyarakat.


Semua harus berjalan bersama.


Ia mengutip sebuah kalimat yang mengundang tepuk tangan hadirin.


"Datang bersama adalah sebuah permulaan. Tetap tinggal bersama adalah sebuah kemajuan. Mampu bekerja bersama adalah sebuah kesuksesan."


Kalimat itu seolah menjadi penutup sempurna dari sore yang dipenuhi warna-warni budaya.


Festival Budaya Multi Etnis Kelurahan Namosain akhirnya resmi dibuka. Namun yang dibuka sore itu bukan hanya rangkaian pertunjukan seni.


Yang dibuka adalah ruang untuk kembali mengingat bahwa Kota Kupang tidak dibangun oleh keseragaman, melainkan oleh keberanian warganya untuk hidup berdampingan dalam perbedaan.


Dan ketika tepuk tangan menggema menutup acara pembukaan, pesan yang dibawa pulang setiap orang bukan hanya tentang festival.


Melainkan keyakinan bahwa selama keberagaman terus dijaga, Kota Kupang akan selalu memiliki alasan untuk tetap disebut sebagai rumah bersama.

✒️: kl