Masuk

Notification

×

Iklan

Tag Terpopuler

Ketika Jalan Tani Menjadi Jalan Harapan: Ikhtiar Naioni Membangun Ekonomi dari Pinggiran

Rabu, 29 Juli 2026 | Juli 29, 2026 WIB Last Updated 2026-07-29T03:53:37Z

 



Kota Kupang, NTT– Pembangunan sering kali diukur dari berdirinya gedung-gedung megah atau ramainya pusat perdagangan. Namun, bagi warga Kelurahan Naioni, pembangunan memiliki makna yang jauh lebih sederhana. Bukan gedung bertingkat, melainkan jalan tani yang layak dilalui, bibit sayur yang siap ditanam, dan kesempatan bagi masyarakat untuk terus bertahan dari hasil kebun mereka sendiri.


Di kelurahan yang berada di wilayah pinggiran Kota Kupang itu, denyut ekonomi tidak bertumpu pada kawasan bisnis, melainkan pada lahan-lahan pertanian yang masih tersisa. Dari kebun sayur itulah banyak keluarga memenuhi kebutuhan sehari-hari, menyekolahkan anak, hingga menjaga roda perekonomian rumah tangga tetap berputar.


Kesadaran itulah yang mendorong masyarakat Naioni, melalui Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang), menetapkan pembangunan jalan tani dan pemberdayaan ekonomi sebagai prioritas utama dalam pemanfaatan bantuan Rp500 juta dari Pemerintah Kota Kupang yang akan direalisasikan pada tahun 2027.


Plt. Lurah Naioni, Oktavianus Nifu, mengatakan program yang digagas Wali Kota Kupang dr. Christian Widodo dan Wakil Wali Kota Serena Cosgrova Francis tersebut memberikan kepastian bagi setiap kelurahan untuk mengusulkan kebutuhan yang benar-benar dirasakan masyarakat.


"Kalau dulu masyarakat kadang pesimis mengikuti Musrenbang karena belum tentu usulannya terealisasi. Sekarang masyarakat lebih antusias karena ada kepastian bahwa setiap kelurahan mendapatkan alokasi anggaran," ujarnya.


Dari hasil Musrenbang itu, masyarakat Naioni sepakat mengalokasikan Rp400 juta untuk pembangunan Jalan Tani, akses utama menuju kawasan pertanian yang selama ini kondisinya rusak dan menyulitkan aktivitas petani.


Bagi sebagian orang, jalan hanyalah infrastruktur.

Namun bagi petani Naioni, jalan adalah urat nadi ekonomi.


Dari jalan itulah hasil panen diangkut menuju pasar. Dari jalan itu pula pupuk, bibit, dan kebutuhan produksi masuk ke lahan pertanian. Jalan yang baik berarti biaya angkut lebih murah, waktu lebih efisien, dan hasil panen lebih cepat sampai ke tangan pembeli.


Sementara itu, Rp100 juta sisanya dialokasikan untuk pemberdayaan masyarakat. Sebanyak Rp50 juta digunakan untuk pengadaan tenda, terpal, dan kursi plastik bagi kegiatan posyandu, sedangkan Rp50 juta lainnya diperuntukkan bagi pengadaan bibit sayuran yang akan dibagikan kepada kelompok tani.


Menurut Oktavianus, pilihan tersebut lahir dari kondisi riil masyarakat.


Jika beberapa tahun lalu banyak warga masih menggantungkan hidup dari menjual kayu bakar atau memecah batu, kini semakin banyak yang beralih menjadi petani sayur dan pelaku usaha kecil. Perubahan itu menunjukkan bahwa sektor pertanian mulai menjadi penopang utama ekonomi warga.


Namun di balik optimisme tersebut, tersimpan tantangan yang tidak ringan.


Lahan-lahan produktif perlahan berkurang karena dijual untuk memenuhi kebutuhan ekonomi maupun biaya adat. Padahal, tanah yang dilepas hari ini bisa menjadi sumber penghasilan yang hilang di masa depan.


"Kalau bisa masyarakat mulai berpikir jangka panjang. Tanah produktif sebaiknya dipertahankan karena itu menjadi sumber kehidupan keluarga," kata Oktavianus.


Persoalan lain yang juga menjadi perhatian adalah keterbatasan air. Masih banyak lahan yang sebenarnya potensial dikembangkan, tetapi belum didukung sistem irigasi maupun penampungan air yang memadai. Sehingga ia berharap agar Bapak wali kota dan Ibu Wakil anggarannya di naikan menjadi 1 Milyar. 


Karena itu, ia berharap ke depan pemerintah dapat menghadirkan program pembangunan embung atau bendung kecil sehingga petani tetap dapat mengolah lahan meski musim kemarau tiba.


Bagi Oktavianus, pembangunan ekonomi tidak selalu dimulai dari proyek-proyek besar.


Kadang, perubahan justru berawal dari jalan tani yang lebih baik, bibit yang ditanam di musim hujan, dan keberanian masyarakat menjaga lahan pertanian agar tetap produktif.


Sebab pada akhirnya, pembangunan yang berhasil bukan hanya tentang bertambahnya infrastruktur, tetapi juga tentang bertambahnya harapan dan kesejahteraan masyarakat yang menikmatinya.


Di Naioni, harapan itu sedang ditanam. Dan seperti benih yang tumbuh di tanah subur, masyarakat berharap pembangunan yang dimulai dari jalan tani hari ini akan berbuah menjadi ekonomi yang lebih kuat bagi generasi mendatang.

✒️: kl