Masuk

Notification

×

Iklan

Tag Terpopuler

Ketika Ketulusan Mengalir Bersama Air: 11 Mata Air Suitbertus Amandus Menjawab Penantian Panjang Warga Rotat

Kamis, 23 Juli 2026 | Juli 23, 2026 WIB Last Updated 2026-07-23T10:59:39Z

 



Maumere, NTT – Bagi sebagian orang, membuka keran dan melihat air mengalir mungkin merupakan hal biasa. Namun bagi warga Dusun Rotat, Desa Ladogahar, Kecamatan Nita, Kabupaten Sikka, air yang kini perlahan mengalir menuju permukiman membawa cerita yang jauh lebih dalam: tentang penantian puluhan tahun, perjuangan melewati perbukitan dan sungai, gotong royong, serta ketulusan seseorang membagikan sumber kehidupan yang dimilikinya.


Harapan itu datang dari Kebun Nilo di Desa Wuliwutik.


Di kawasan tersebut terdapat 11 titik mata air milik tokoh masyarakat Sikka, Suitbertus Amandus, yang kemudian dihibahkan untuk dimanfaatkan masyarakat Rotat secara gratis dan seumur hidup.


Tidak ada transaksi. Tidak ada kewajiban membayar air kepada pemilik sumber. Yang ada hanyalah satu pesan sederhana: air adalah titipan Tuhan dan sudah seharusnya dibagikan kepada mereka yang membutuhkan.


“Gratis, ikhlas. Bisa dipakai seumur hidup. Air ini adalah titipan Tuhan untuk saya sekeluarga dan kami harus berbagi dengan mereka yang membutuhkan,” kata Suitbertus Amandus.

 

Kalimat sederhana itu menjadi jawaban atas persoalan yang telah lama membayangi kehidupan sekitar 90 Kepala Keluarga (KK) di Dusun Rotat.


Selama bertahun-tahun, kebutuhan air menjadi persoalan yang tidak mudah bagi masyarakat Rotat.


Warga sebelumnya menggantungkan kebutuhan mereka pada Mata Air Wua Pi'i. Namun seiring bertambahnya jumlah penduduk, debit sumber air tersebut terus menurun.


Kebutuhan bertambah, sementara ketersediaan air semakin terbatas.


Di tengah kondisi itulah muncul keinginan masyarakat mencari sumber air alternatif yang mampu memberikan harapan jangka panjang.


Aspirasi warga kemudian disampaikan melalui agenda reses Anggota DPRD Kabupaten Sikka asal Rotat, Yuslin Nursivin Dua Botha.


Dari sana, pencarian sumber air alternatif mulai menemukan jalan.


Namun menemukan air ternyata baru menjadi awal perjuangan.


Sumber air yang tersedia harus dialirkan menuju permukiman dengan jaringan pipa sepanjang kurang lebih tiga kilometer. Medan yang harus dilalui bukan medan mudah. Ada perbukitan dan sungai yang menjadi tantangan tersendiri.


Pembangunan jaringan tersebut tentu membutuhkan biaya yang tidak sedikit.


Ketika keterbatasan anggaran menjadi penghalang, masyarakat memilih tidak menunggu.


Mereka bergerak sendiri.


Warga mengumpulkan tenaga dan kemampuan yang mereka miliki. Semangat gotong royong menjadi modal utama untuk membawa air dari sumbernya menuju kampung.


Tokoh masyarakat Dusun Rotat, Robertus Bellarminus, mengatakan perjuangan menghadirkan air tersebut dilakukan secara swadaya tanpa bantuan pemerintah.


“Semua murni swadaya tanpa bantuan pemerintah. Kami bersama Bapak Amandus, Ibu Irvin, tokoh masyarakat Yakobus Jano, serta seluruh warga bahu-membahu merealisasikan air bersih masuk ke Dusun Rotat,” ujar Robertus.

 

Di balik perjuangan itu, Suitbertus Amandus mengambil keputusan penting: membuka akses terhadap 11 titik mata air miliknya untuk kepentingan masyarakat.


Bukan untuk satu atau dua tahun.

Bukan pula dengan sistem sewa atau pembayaran tertentu.


Menurut Amandus, sumber air tersebut dapat dimanfaatkan masyarakat secara gratis untuk jangka panjang, bahkan seumur hidup.


Keputusan itulah yang kemudian menjadi salah satu bagian penting dari perjalanan panjang warga Rotat mendapatkan air bersih.


“Murni dari Hati Nurani”


Nama Suitbertus Amandus bukan nama yang sepenuhnya asing dalam kehidupan publik Kabupaten Sikka.


Ia pernah maju sebagai calon Bupati Sikka pada Pilkada 2024.


Latar belakang tersebut membuat setiap tindakan sosial yang dilakukannya berpotensi dikaitkan dengan kepentingan politik.


Namun Robertus Bellarminus menepis anggapan tersebut.


Menurutnya, masyarakat yang terlibat langsung dalam perjuangan menghadirkan air mengetahui bagaimana proses itu berlangsung.


Ia menegaskan bantuan tersebut diberikan tanpa syarat dan tanpa permintaan imbalan politik.


“Bapak Amandus membantu ini murni dari hati nuraninya, hanya untuk memberi kepada masyarakat yang belum bisa menikmati air bersih. Ini sama sekali tidak ada kaitannya dengan politik,” tegas Robertus.

 

Robertus mengatakan perbuatan seseorang yang pernah berada dalam kontestasi politik memang mudah ditafsirkan dari berbagai sudut.


Namun menurutnya, tidak setiap tindakan kemanusiaan harus selalu ditempatkan dalam kepentingan politik.


“Sering kali orang yang berbuat baik selalu digiring ke dunia politik. Tetapi dalam hal ini kami sangat yakin Bapak Amandus memberi dengan sepenuh hati. Beliau tidak pernah berpikir mendapatkan sesuatu dari kami. Bantuan ini polos dan murni,” katanya.

 

Bagi masyarakat, ukuran paling sederhana adalah manfaat yang kini mereka rasakan.


Air yang sebelumnya hanya menjadi harapan kini telah mencapai bak penampungan utama.


Dari sana, air mulai dialirkan menuju rumah-rumah warga.


Perjalanan air sejauh kurang lebih tiga kilometer itu membawa cerita tentang banyak tangan yang bekerja bersama.


Ada pemilik sumber yang bersedia berbagi.

Ada tokoh masyarakat yang menggerakkan warga.

Ada aspirasi yang diperjuangkan.


Dan ada masyarakat yang memilih bergotong royong daripada hanya menunggu datangnya bantuan.


Kini tantangan berikutnya adalah memastikan air tersebut tetap terjaga.


Masyarakat berkomitmen mengelola dan memanfaatkan air secara adil agar sekitar 90 KK dapat memperoleh manfaat secara berkelanjutan.


Sebab air yang berhasil dialirkan hari ini bukan hanya untuk menjawab kebutuhan sesaat.


Sumber kehidupan itu diharapkan menjadi warisan bagi generasi Rotat berikutnya.


Di tengah berbagai keterbatasan pembangunan di pelosok daerah, kisah Rotat menunjukkan bahwa perubahan tidak selalu harus dimulai dari proyek bernilai besar.


Terkadang perubahan dimulai dari seseorang yang bersedia berbagi apa yang dimilikinya, lalu disambut oleh masyarakat yang bersedia bekerja bersama.


Sebelas mata air itu mungkin berasal dari satu kawasan kebun.


Namun ketika pemiliknya memilih membuka sumber tersebut untuk kepentingan banyak orang, air itu berubah menjadi milik sebuah harapan bersama.


Setelah puluhan tahun menanti, bagi warga Rotat suara air yang kini mengalir memiliki arti berbeda.


Ia bukan sekadar air yang memenuhi bak penampungan.


Ia membawa cerita tentang ketulusan, gotong royong, dan kepedulian yang berhasil menembus keterbatasan.


Dan dari 11 mata air yang diberikan tanpa meminta imbalan itu, sebuah pesan sederhana mengalir bersama air menuju rumah-rumah warga Rotat:


Bahwa sesuatu yang diberikan dengan ikhlas dapat menjadi sumber kehidupan bagi banyak orang, bahkan untuk generasi yang belum lahir.

✒️: Albert Cakramento