Maumere, NTT, 22Agustus 2026 — Pemerintah Kabupaten Sikka menyatakan bantuan pascagempa telah didistribusikan ke seluruh 21 kecamatan. Namun, pernyataan tersebut masih menyisakan persoalan di lapangan.
Di RT 001/RW 001, Dusun Dobo, Desa Ian Tena, Kecamatan Kewapante, sejumlah warga terdampak gempa mengaku hingga kini masih bertahan secara mandiri di bawah terpal karena belum menerima bantuan yang mereka butuhkan.
Gempa yang mengguncang wilayah tersebut menyebabkan sejumlah rumah warga mengalami keretakan dan kerusakan. Khawatir terhadap keselamatan, warga memilih tidak kembali tidur di dalam rumah dan mendirikan tempat perlindungan seadanya di ruang terbuka.
Ironisnya, di tengah pernyataan bahwa bantuan telah menjangkau seluruh 21 kecamatan, warga di lokasi tersebut mengaku masih menunggu perhatian pemerintah.
Data sementara yang dihimpun warga mencatat sedikitnya 17 anak dan 17 lansia, serta seorang ibu hamil berada di lokasi pengungsian mandiri tersebut.
Sergius Moa, salah seorang warga, mengatakan kondisi itu telah berlangsung sejak gempa menyebabkan sejumlah rumah mengalami kerusakan.
Menurutnya, hingga kini warga yang mengungsi secara mandiri belum mendapatkan bantuan maupun kunjungan dari pemerintah desa, kecamatan, BPBD maupun Pemerintah Kabupaten Sikka.
“Beberapa rumah warga rusak akibat guncangan. Kami memilih keluar rumah karena takut terjadi sesuatu. Sampai sekarang kami masih bertahan dengan kondisi seperti ini,” kata Sergius saat ditemui di lokasi pengungsian.
Menurut Sergius, warga tidak meminta bantuan yang berlebihan. Mereka hanya membutuhkan tempat berlindung yang lebih layak, terutama bagi anak-anak, lansia dan ibu hamil.
“Kami tidak butuh banyak. Yang penting negara hadir untuk kami,” ujarnya.
Warga berharap pemerintah maupun pihak terkait segera memberikan sedikitnya empat lembar terpal dan satu tenda untuk digunakan sebagai tempat pengungsian sementara.
Bantuan tersebut dinilai mendesak karena warga belum mengetahui kapan mereka dapat kembali menempati rumah masing-masing.
“Kami hanya ingin ada perhatian. Rumah kami sudah retak dan ada yang rusak. Kami takut kembali tidur di dalam rumah,” kata Sergius.
Kondisi tersebut membuat warga harus bertahan di ruang terbuka dengan perlindungan seadanya. Situasi semakin menjadi perhatian karena terdapat anak-anak, lansia dan seorang ibu hamil di lokasi pengungsian.
Kondisi warga Ian Tena memperlihatkan bahwa persoalan distribusi bantuan pascagempa bukan hanya soal berapa banyak bantuan yang telah disalurkan, tetapi juga apakah bantuan tersebut benar-benar sampai kepada warga yang membutuhkan.
Pemerintah memang menyatakan bantuan telah didistribusikan ke 21 kecamatan. Namun, fakta di lapangan menunjukkan masih terdapat warga yang mengaku belum tersentuh bantuan, khususnya mereka yang memilih mengungsi secara mandiri di sekitar lingkungan tempat tinggal.
Kondisi ini menjadi pekerjaan rumah bagi pemerintah untuk memastikan kembali data penerima bantuan, memetakan titik-titik pengungsian mandiri, serta melakukan penyisiran ke wilayah yang belum terjangkau.
Langkah tersebut penting agar warga terdampak yang tidak berada di posko besar tetap masuk dalam pendataan dan mendapatkan bantuan sesuai kebutuhan.
Sebab bagi warga Ian Tena, bantuan bukan sekadar angka dalam laporan distribusi.
Bantuan harus benar-benar tiba di tangan mereka yang sedang tidur di bawah terpal, sementara rumah mereka retak dan rasa aman mereka telah hilang.
