Masuk

Notification

×

Iklan

Tag Terpopuler

Di Tengah Trauma Gempa, Anak-anak Pengungsi di Maumere Kembali Tertawa Lewat Dongeng

Senin, 17 Agustus 2026 | Agustus 17, 2026 WIB Last Updated 2026-08-17T12:27:10Z

 



Maumere, NTT Di tengah trauma akibat gempa Flores, anak-anak pengungsi di Posko PDIP, Jalan Wairklau, Maumere, kembali tertawa dan bermain setelah mengikuti kegiatan trauma healing melalui dongeng, membaca, bernyanyi, dan berbagai aktivitas bersama yang digelar PDIP bersama TBM Misir Tengah.


Kegiatan tersebut berlangsung pada Senin (17/8/2026) sore. Suasana di posko yang sebelumnya dipenuhi kecemasan berubah menjadi lebih hangat ketika anak-anak mulai berkumpul dan mengikuti berbagai aktivitas.


Mereka diajak membaca buku, mendengarkan dongeng, bercerita, bernyanyi, hingga bermain bersama. Aktivitas sederhana tersebut menjadi ruang bagi anak-anak untuk sejenak mengalihkan perhatian dari pengalaman menegangkan akibat gempa.


Bagi sebagian anak pengungsi, gempa bukan hanya meninggalkan kerusakan rumah dan lingkungan, tetapi juga pengalaman yang dapat membekas secara emosional.


Mereka menyaksikan kepanikan orang tua, merasakan tanah berguncang, hingga harus berlari meninggalkan rumah untuk menyelamatkan diri.


Karena itu, pendampingan terhadap anak-anak menjadi bagian penting selama mereka berada di pengungsian.


Melalui kegiatan trauma healing, anak-anak diberikan kesempatan untuk kembali melakukan aktivitas yang dekat dengan dunia mereka, yakni bermain, membaca dan belajar.


Satu per satu anak mulai mengikuti kegiatan. Ada yang tertawa ketika mendengarkan cerita, ada yang menjawab pertanyaan, sementara yang lainnya terlihat asyik membaca dan bermain bersama teman-temannya.


Kegiatan tersebut digelar melalui kerja sama PDI Perjuangan dengan Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Misir Tengah.


Hubertina Afloubun, S.E., M.M., dari TBM Misir Tengah, mengaku bahagia melihat anak-anak pengungsi mulai kembali menunjukkan keceriaan.


Menurut Hubertina, anak-anak membutuhkan ruang untuk bercerita dan bermain agar pikiran mereka tidak terus terpaku pada pengalaman menegangkan yang baru saja dialami.


“Saya merasa bahagia ketika melihat anak-anak bisa diajak bercerita, membaca dan bermain. Setidaknya mereka bisa melupakan sejenak trauma yang dialami beberapa hari lalu, ketika harus berlari meninggalkan rumah karena gempa,” ungkap Hubertina.

 

Menurutnya, kegiatan seperti membaca buku dan mendengarkan dongeng memang terlihat sederhana. Namun, bagi anak-anak yang sedang berada dalam situasi bencana, aktivitas tersebut dapat menjadi ruang untuk kembali merasa nyaman.


Di tengah kondisi pengungsian, buku dan dongeng menjadi salah satu cara untuk membawa anak-anak keluar sejenak dari rasa takut.


Ketika cerita mulai dibacakan, perhatian anak-anak perlahan beralih. Mereka mulai mendengarkan, menjawab pertanyaan, bernyanyi dan berinteraksi satu sama lain.


Suasana tersebut menghadirkan pemandangan berbeda di Posko Pengungsian PDIP Jalan Wairklau.


Jika sebelumnya posko identik dengan warga yang membutuhkan makanan, air minum, tempat beristirahat dan bantuan lainnya, sore itu terdengar suara anak-anak yang tertawa dan bermain.


Keceriaan tersebut menjadi bagian kecil dari proses pemulihan psikologis anak-anak setelah menghadapi bencana.


Kegiatan trauma healing juga menunjukkan bahwa penanganan bencana tidak hanya berkaitan dengan kebutuhan fisik.


Makanan, air bersih, tenda dan pelayanan kesehatan memang menjadi kebutuhan utama para pengungsi. Namun, kondisi psikologis, khususnya anak-anak, juga membutuhkan perhatian.


Anak-anak membutuhkan pendampingan agar mereka dapat memahami pengalaman yang baru saja terjadi sekaligus memiliki ruang untuk mengekspresikan perasaan.


Melalui kegiatan bermain dan belajar, mereka dapat berinteraksi dengan teman sebaya dan orang dewasa dalam suasana yang lebih santai.


Bagi sebagian anak, rumah mungkin harus ditinggalkan sementara waktu. Lingkungan yang selama ini mereka kenal juga berubah akibat bencana.


Namun, di tengah kondisi tersebut, mereka tetap membutuhkan ruang untuk menjadi anak-anak.


Bermain, membaca, bernyanyi, mendengarkan dongeng dan tertawa menjadi bagian dari proses untuk mengembalikan rasa aman dan kenyamanan.


Kerja sama PDIP dan TBM Misir Tengah menjadi salah satu bentuk kepedulian terhadap kebutuhan tersebut.


Sore itu, Posko PDIP di Jalan Wairklau bukan hanya menjadi tempat berlindung. Posko juga berubah menjadi ruang kecil bagi anak-anak pengungsi untuk kembali menemukan keceriaan.


Flores boleh diguncang gempa. Rumah boleh ditinggalkan untuk sementara. Tetapi harapan anak-anak tidak boleh ikut runtuh.


Di tengah bencana, sebuah buku, sebuah dongeng, sebuah permainan dan sebuah senyum mungkin terlihat sederhana. Namun bagi anak-anak korban gempa, semuanya bisa menjadi langkah kecil untuk kembali menemukan rasa aman.

✒️: Albert Cakramento