Kota Kupang, NTT — Duka akibat gempa bumi yang mengguncang Flores pada 15 Agustus 2026 turut dirasakan warga RT 08/RW 03 Kelurahan Fontein, Kota Kupang. Di tengah momentum HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, warga memilih mengalihkan dana kegiatan yang biasanya digunakan untuk perlombaan menjadi aksi peduli korban gempa Flores.
Namun, kepedulian warga RT 08 tidak berhenti pada penggalangan donasi. Mereka juga menyiapkan bantuan bagi warga sekitar sekaligus menghidupkan pelaku UMKM di lingkungan setempat dengan menyediakan makanan gratis bagi masyarakat.
Ketua RT 08, Gebi Kota, mengatakan kegiatan tersebut merupakan bentuk kepedulian warga yang setiap tahun berupaya membuat perayaan HUT RI memiliki manfaat langsung bagi masyarakat.
Gebi menjelaskan, setiap tahun warga RT 08 biasanya menggelar berbagai kegiatan untuk memperingati HUT Kemerdekaan RI. Namun, situasi berbeda terjadi tahun ini setelah gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 mengguncang Flores pada 15 Agustus 2026.
Warga kemudian sepakat mengalihkan kegiatan perlombaan menjadi aksi penggalangan bantuan untuk masyarakat terdampak gempa.
“Semua kegiatan 17 Agustus kita tidak bikin seremonial. Kita bikin dalam bentuk duka mereka adalah duka kita juga,” ujar Gebi Kota.
Menurutnya, keputusan tersebut mendapat respons positif dari masyarakat. Warga datang membawa pakaian layak pakai, bahan makanan hingga uang tunai.
Bantuan yang terkumpul nantinya akan disalurkan melalui (WCDI) WORLD CLEANUP Day Indonesia.
Gebi berharap bantuan yang diberikan warga dapat benar-benar sampai kepada masyarakat yang terdampak bencana di Flores.
Di tengah aksi penggalangan bantuan, RT 08 juga tetap menjalankan program yang sudah menjadi kebiasaan setiap perayaan HUT RI, yakni memberikan ruang kepada pelaku UMKM untuk berjualan.
Bedanya, tahun ini seluruh makanan yang disediakan UMKM dapat dinikmati masyarakat secara gratis.
Gebi mengatakan, pihak RT menyiapkan anggaran untuk membayar terlebih dahulu makanan atau produk yang dijual oleh UMKM yang hadir.
“UMKM yang hadir kita kasih gratis. Uangnya sudah kita bayarkan ke pemilik UMKM. Pengunjung tinggal makan,” jelasnya.
Program tersebut, kata Gebi, sudah dilakukan RT 08 selama beberapa tahun terakhir sebagai bentuk dukungan terhadap pelaku usaha kecil di lingkungan masyarakat.
Setiap tahun jumlah UMKM yang terlibat dapat mencapai lima hingga tujuh pelaku usaha dengan berbagai jenis makanan dan minuman.
Untuk kegiatan tahun ini, RT 08 menyiapkan anggaran sekitar Rp500 ribu hingga Rp600 ribu untuk setiap UMKM.
Para pelaku UMKM yang menerima dukungan tersebut tetap diminta menyediakan makanan bagi masyarakat yang datang.
“Siapa yang datang boleh menikmati,” katanya.
Menurut Gebi, meskipun nilai bantuan kepada masing-masing UMKM tidak besar, dukungan tersebut diharapkan dapat membantu pelaku usaha sekaligus memberikan manfaat langsung kepada masyarakat.
Gebi menegaskan, seluruh kegiatan tersebut diupayakan berasal dari masyarakat dan manfaatnya kembali kepada masyarakat.
Karena itu, pihak RT memilih tidak berkolaborasi dengan pihak luar dalam pelaksanaan kegiatan tersebut.
“Kita masyarakat sepakat bahwa ini dari kita, untuk kita,” katanya.
Menurutnya, selain membantu korban gempa Flores, kegiatan tersebut juga merupakan bentuk respons masyarakat terhadap kondisi yang masih dihadapi warga terdampak bencana.
Gebi berharap kepedulian masyarakat dapat menjadi dorongan agar perhatian dan bantuan kepada Flores terus ditingkatkan.
“Mudah-mudahan dengan kegiatan yang kita bikin bisa mendorong pemerintah lebih gencar untuk Flores,” ujarnya.
Salah satu perhatian utama warga RT 08 adalah memastikan donasi yang dikumpulkan tidak berhenti pada proses pengumpulan.
Karena itu, Gebi mengaku telah meminta pihak WCDI untuk membantu memastikan bantuan tersebut benar-benar sampai kepada masyarakat yang membutuhkan.
Ia berharap pihak yang menerima titipan bantuan dapat menjalankan amanah masyarakat RT 08 dan para donatur.
“Ini donasi yang diberikan oleh masyarakat. Kami berharap benar-benar sampai kepada yang membutuhkan di Flores,” katanya.
Aksi warga RT 08 mendapat apresiasi dari Plt. Lurah Fontein, Iwan Taklal.
Menurut Iwan, keputusan warga mengalihkan kegiatan perayaan kemerdekaan menjadi aksi sosial menunjukkan adanya kepedulian dan jiwa gotong royong yang kuat.
Ia menilai semangat kemerdekaan tidak hanya diwujudkan melalui perayaan, tetapi juga melalui kepedulian kepada masyarakat yang sedang mengalami musibah.
“Ini betul-betul aksi yang keluar dari lubuk hati yang luhur, jiwa yang peduli. Ini patut menjadi inspirasi bagi kita semua,” ujar Iwan.
Iwan juga mengajak masyarakat lainnya untuk ikut bergandengan tangan membantu masyarakat terdampak gempa Flores.
Menurutnya, aksi sosial seperti yang dilakukan warga RT 08 merupakan bentuk nyata semangat kemerdekaan.
Ketua RW 03, Sarlin Radja Tuka, turut mengapresiasi langkah warga RT 08.
Ia berharap semangat kepedulian dan gotong royong tidak berhenti setelah momentum bantuan untuk korban gempa Flores berakhir.
Sarlin juga menekankan pentingnya memastikan seluruh bantuan sampai kepada masyarakat yang menjadi sasaran.
“Harapan saya supaya semua bantuan ini harus sampai kepada sasaran, sehingga mereka juga merasakan betapa pedulinya kita dari Kupang, dari Kota Kupang,” ujarnya.
Ia mengajak masyarakat untuk mempertahankan semangat saling membantu dalam kehidupan sehari-hari.
“Jangan berhenti di sini. Rasa kepedulian dan gotong royong itu kalau bisa dibangun dengan serius, supaya setiap ada bencana kita semua ikut terlibat dan ikut merasakan,” katanya.
Bagi warga RT 08/RW 03 Kelurahan Fontein, HUT ke-81 Kemerdekaan RI tahun ini dirayakan dengan cara yang berbeda.
Dana yang biasanya digunakan untuk perlombaan dialihkan untuk membantu korban gempa Flores. Warga sekitar mendapat paket kebutuhan pokok. Pelaku UMKM diberi ruang untuk berjualan dan bahkan produknya dibagikan secara gratis kepada masyarakat.
Semua dilakukan dengan satu semangat: dari warga, untuk warga, dan untuk sesama yang sedang membutuhkan.
Di tengah duka Flores, warga RT 08 Fontein memilih tidak sekadar menyampaikan simpati. Mereka mengubah perayaan kemerdekaan menjadi aksi nyata—berbagi, membantu dan menghidupkan semangat gotong royong.
✒️: kl
