Lobi Hotel Harper Kupang, Sabtu (1/8/2026), siang itu dipenuhi suasana yang berbeda. Sejumlah wartawan telah bersiaga, kamera mengarah ke pintu utama hotel. Mereka menunggu satu sosok yang sejak beberapa hari terakhir menjadi magnet perhatian masyarakat Nusa Tenggara Timur—Presiden ke-7 Republik Indonesia, Joko Widodo, sosok yang oleh banyak pendukungnya dijuluki maestro politik Indonesia.
Di sela-sela penantian itu, Ketua DPW Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Provinsi NTT, dr. Christian Widodo, meluangkan waktu menjawab pertanyaan awak media. Belum lama lagi, Jokowi dijadwalkan keluar dari tempat penginapannya untuk melanjutkan agenda di Kota Kupang. Namun sebelum kerumunan kembali bergerak menyambut sang maestro politik, Christian memilih berbicara tentang sesuatu yang menurutnya jauh lebih penting daripada sekadar euforia politik sesaat: bagaimana membangun partai yang kuat dari akarnya.
Ketika ditanya mengenai perkembangan PSI di NTT, Christian tidak langsung menghitung jumlah kursi atau berbicara soal kemenangan politik. Baginya, partai yang besar tidak lahir dari gemerlap panggung atau ramainya sorak-sorai. Partai dibangun dari struktur yang hidup, kader yang bertumbuh, dan kerja nyata yang dirasakan masyarakat.
"Kuncinya ada tiga. Pertama pembinaan struktur. Kedua mencari kader-kader potensial. Ketiga hadir dan bekerja untuk rakyat," ujarnya kepada awak media.
Di balik tiga kalimat sederhana itu, tersimpan keyakinan bahwa politik tidak dibangun hanya menjelang pemilu. Politik adalah pekerjaan yang dilakukan setiap hari, ketika kader hadir di tengah masyarakat, mendengar keluhan, dan ikut mencari jalan keluar. Menurut Christian, di situlah kepercayaan publik bertumbuh, bukan dari banyaknya baliho yang terpasang atau ramainya panggung kampanye.
Optimisme itu bukan tanpa alasan. Christian menyebut PSI NTT saat ini menjadi salah satu wilayah dengan capaian terbaik di Indonesia. Partai berlambang mawar itu berhasil meraih enam kursi DPRD Provinsi NTT hingga membentuk satu fraksi penuh. Di tingkat kabupaten dan kota, PSI mengantongi 34 kursi, memiliki empat kepala daerah dari kader sendiri, serta turut mengusung sejumlah kepala daerah yang memenangkan Pilkada, termasuk Gubernur Nusa Tenggara Timur.
Namun, baginya, pencapaian tersebut bukan alasan untuk berpuas diri. Justru ketika sebuah partai mulai bertumbuh, tantangan yang dihadapi akan semakin besar. Karena itu, ia memasang target yang terdengar sederhana, tetapi membutuhkan kerja panjang: setiap daerah pemilihan harus memiliki minimal satu kursi PSI.
"Kalau DPRD Provinsi ada delapan daerah pemilihan, maka target kami minimal delapan kursi. Untuk DPR RI ada dua daerah pemilihan, targetnya dua kursi. Setiap dapil harus memiliki wakil PSI," katanya.
Target itu, menurut Christian, hanya bisa dicapai apabila struktur partai benar-benar hidup hingga ke akar rumput. Di Kota Kupang, struktur PSI telah terbentuk hingga tingkat ranting atau kelurahan. Sementara di sejumlah kabupaten lain, proses pembentukan masih terus berlangsung karena tantangan geografis NTT sebagai provinsi kepulauan.
Baginya, laut yang memisahkan pulau-pulau di NTT bukan penghalang untuk membangun organisasi. Justru di balik bentangan laut itulah ia melihat peluang untuk memperluas pengabdian dan menghadirkan politik yang lebih dekat dengan masyarakat.
Sesekali pandangan Christian mengarah ke pintu hotel. Di luar, suasana mulai ramai. Masyarakat yang sejak pagi menunggu kedatangan Jokowi semakin memadati area sekitar hotel. Nama mantan Presiden RI itu beberapa kali terdengar diteriakkan warga yang berharap bisa berjabat tangan atau sekadar mengabadikan momen dengan telepon genggam mereka.
Di tengah riuhnya penantian terhadap sang maestro politik, Christian menutup perbincangan dengan sebuah pesan yang sederhana.
"Pokoknya kita fokus berjuang terus. Jangan fokus sama orang lain. Fokus sama diri sendiri. Tetap semangat."
Tak lama kemudian, pintu hotel mulai terbuka. Perhatian wartawan dan masyarakat pun beralih. Kamera-kamera kembali terangkat. Sorak-sorai terdengar memecah suasana.
Percakapan tentang strategi membangun partai berhenti sejenak. Namun pesan yang ditinggalkan Christian tetap menggema: bahwa partai besar tidak dibangun oleh euforia sesaat, melainkan oleh kerja panjang, kesabaran, dan kehadiran yang terus dirasakan rakyat.
✒️: kl
