Maumere, NTT, 22 Agustus 2026 — Persoalan bantuan bagi warga terdampak gempa kembali mendapat sorotan. Warga RT 10/RW 03, Kelurahan Waioti, Kecamatan Alok Timur, Kabupaten Sikka, mengaku masih membutuhkan perhatian pemerintah karena tidak semua warga terdampak mengungsi di lokasi penampungan terpusat seperti Gelora Samador Maumere.
Dalam wawancara dengan media ini, warga mengungkapkan bahwa sebagian korban gempa memilih bertahan di lingkungan masing-masing dan mendirikan tenda secara mandiri, termasuk di lorong sekitar kawasan Muhammadiyah serta sejumlah titik permukiman lainnya.
“Pemerintah lebih fokus mengurus pengungsi yang ada di Gelora Samador. Padahal kami yang berada di sini juga pengungsi dan sama-sama terdampak gempa,” ungkap salah seorang warga.
Warga mengaku bantuan pemerintah yang diterima sebelumnya masih sangat terbatas. Salah seorang warga menyebut bantuan yang diterima hanya sekitar 15 kilogram beras, yang kemudian diminta untuk dibagikan kepada warga di tiga RT.
“Padahal kami juga terkena dampak. Sampai sekarang kami juga tidak bisa melaut,” keluh warga.
Bagi masyarakat pesisir, terhentinya aktivitas melaut menjadi persoalan serius. Tidak bisa melaut berarti sebagian warga kehilangan sumber penghasilan, sementara kebutuhan keluarga tetap harus dipenuhi setiap hari.
Untuk memastikan informasi tersebut, Lurah Waioti, Yosef Suryanto Nong Files, S.Pt., dikonfirmasi media ini melalui sambungan WhatsApp terkait keluhan warga dan penyaluran bantuan bagi masyarakat terdampak gempa.
Dalam klarifikasinya, Lurah Waioti menjelaskan bahwa bantuan beras yang diterima pihak kelurahan berjumlah 60 kilogram.
Namun, bantuan tersebut tidak diperuntukkan bagi satu titik pengungsian saja. Kelurahan Waioti memiliki 12 RT sehingga 60 kilogram beras tersebut dibagi kepada 12 RT, dengan masing-masing RT memperoleh 5 kilogram beras.
Pembagian tersebut dilakukan sebagai upaya agar bantuan yang terbatas tetap dapat menjangkau seluruh wilayah Kelurahan Waioti.
Menurut pihak kelurahan, masing-masing RT kemudian membantu menyalurkan bantuan kepada warga yang membutuhkan, termasuk masyarakat terdampak yang bertahan di tenda-tenda pengungsian mandiri.
Pihak kelurahan juga berupaya agar bantuan yang terbatas tersebut dapat dimanfaatkan secara maksimal untuk memenuhi kebutuhan warga terdampak.
Klarifikasi ini sekaligus menunjukkan bahwa jumlah bantuan yang diterima kelurahan memang terbatas jika dibandingkan dengan jumlah RT dan warga terdampak yang harus dilayani.
Selain bantuan pemerintah, sejumlah kelompok masyarakat juga turut memberikan bantuan kepada warga terdampak di beberapa titik. Kegiatan trauma healing bagi anak-anak juga dilakukan sebagai bagian dari upaya membantu warga menghadapi trauma pascagempa.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa penanganan korban gempa tidak hanya berlangsung di posko besar seperti Gelora Samador. Di sejumlah lorong dan permukiman, warga juga membangun tempat pengungsian secara mandiri dengan fasilitas seadanya.
Karena itu, warga berharap pemerintah melakukan pendataan secara menyeluruh agar warga terdampak yang mengungsi secara mandiri tidak terlewat dari perhatian.
Bagi warga RT 10/RW 03, status sebagai pengungsi tidak seharusnya ditentukan hanya berdasarkan apakah mereka berada di Gelora Samador atau tidak.
“Kami juga pengungsi. Kami juga korban gempa. Jangan karena kami tidak berada di Gelora Samador, lalu kami dilupakan,” tegas warga.
Dengan sebagian masyarakat pesisir masih kesulitan beraktivitas dan sejumlah warga masih bertahan di tenda-tenda mandiri, mereka berharap pemerintah terus memastikan bantuan dan perhatian menjangkau seluruh warga terdampak.
Pengungsi bukan hanya mereka yang terlihat di posko utama. Di lorong-lorong permukiman dan tenda-tenda mandiri di pesisir, masih ada warga terdampak yang menunggu untuk diperhatikan.
