Kota Kupang, NTT — Memeriahkan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, SMP Negeri 4 Kota Kupang menggelar rangkaian perlombaan yang melibatkan seluruh warga sekolah, mulai dari siswa kelas VII, VIII dan IX hingga guru serta tenaga kependidikan.
Rangkaian kegiatan tersebut berlangsung selama enam hari dengan berbagai agenda, mulai dari pertandingan futsal, lomba Peraturan Baris-Berbaris (PBB), kebersihan dan keindahan kelas, senam bersama, hingga berbagai kegiatan seni dan hiburan.
Ketua Panitia Perlombaan sekaligus Wakasek Kesiswaan SMPN 4 Kota Kupang, Desi Lau, S.Pd, mengatakan kegiatan tersebut tidak hanya bertujuan mencari pemenang, tetapi menjadi sarana pembelajaran bagi siswa untuk membangun karakter, tanggung jawab, kekompakan dan sportivitas.
“Untuk kegiatan ini tidak hanya kelas 7, 8, dan 9, tetapi kami melibatkan semua unsur yang ada di sekolah, baik pimpinan, guru-guru maupun tenaga kependidikan. Kita semua terlibat,” ujar Desi saat ditemui di SMPN 4 Kota Kupang, Selasa (11/8/2026).
Menurutnya, kegiatan diawali dengan pembukaan dan dilanjutkan dengan sejumlah pertandingan. Sementara acara puncak akan dilaksanakan pada Senin bertepatan dengan upacara peringatan HUT Kemerdekaan RI.
Dalam momentum tersebut, para siswa juga akan diberikan kesempatan menampilkan berbagai bakat yang mereka miliki. Selain penampilan siswa, guru dan pegawai juga akan dilibatkan dalam lomba hiburan.
“Jadi mereka punya talent semua, kita munculkan setelah upacara. Ada talent dari anak-anak, kemudian bapak ibu guru dan pegawai juga ikut dalam lomba hiburan,” jelasnya.
Desi menjelaskan, salah satu kegiatan yang menjadi perhatian adalah lomba PBB yang melibatkan siswa kelas VII, VIII dan IX.
Menurutnya, lomba tersebut bukan sekadar pertandingan, tetapi menjadi bagian dari pembelajaran kepemimpinan bagi siswa.
“Setiap hari kita melaksanakan apel. Anak-anak dituntut untuk siap. Ini sebagai modal dasar agar mereka bisa memimpin barisan dan menjadi seorang pemimpin yang bertanggung jawab,” katanya.
Selain PBB dan futsal, siswa juga mengikuti lomba kebersihan dan keindahan kelas. Kegiatan tersebut dimaksudkan untuk menanamkan rasa tanggung jawab terhadap lingkungan sekolah.
Desi mengibaratkan ruang kelas sebagai rumah kedua bagi siswa.
“Kalau rumah pertama ada bapak dan mama, kalau rumah kedua di sekolah ada bapak ibu guru dan teman-teman. Di sini kami tanamkan rasa persaudaraan,” ujarnya.
Ia juga menjelaskan pola pembinaan hubungan antarkelas. Siswa kelas VII diposisikan sebagai adik bungsu, kelas VIII sebagai kakak nomor dua, sedangkan kelas IX sebagai kakak sulung.
Menurutnya, nilai-nilai etika seperti mengucapkan terima kasih, meminta maaf dan bertanggung jawab atas perbuatan juga terus ditanamkan kepada siswa dalam kehidupan sehari-hari di sekolah.
Selain olahraga, SMPN 4 Kota Kupang juga memberikan ruang bagi siswa untuk menunjukkan kemampuan di bidang seni dan budaya.
Salah satunya melalui kegiatan senam bersama yang melibatkan seluruh warga sekolah. Bahkan, sejumlah siswa dipercaya untuk memimpin gerakan senam dan line dance.
“Anak-anak juga bisa memimpin senam. Mereka memimpin seperti line dance. Mereka juga sudah hebat,” ungkap Desi.
Menurutnya, siswa SMPN 4 Kota Kupang memiliki beragam talenta, baik di bidang olahraga, seni maupun permainan tradisional.
Hal tersebut juga terlihat dalam proses seleksi drum band yang diikuti hampir 300 siswa. Setelah melalui seleksi, jumlah peserta kemudian disaring menjadi sekitar 150 siswa.
Antusiasme siswa terhadap kegiatan tersebut, kata Desi, sangat tinggi. Bahkan, siswa yang tidak lolos seleksi datang dan menyampaikan kekecewaan mereka kepada pihak kesiswaan.
“Mereka datang menyampaikan isi hati. Kenapa saya tidak dipilih, padahal saya punya kemampuan seperti ini,” katanya.
Pihak sekolah kemudian memberikan penjelasan bahwa proses seleksi juga mempertimbangkan regenerasi. Siswa kelas IX yang akan memasuki tahap akhir pendidikan di SMP tidak dapat terus dilibatkan sehingga perlu memberikan kesempatan kepada adik-adik kelas untuk menjadi penerus.
Antusiasme siswa terhadap seluruh rangkaian perlombaan juga dinilai sangat tinggi.
Desi mengatakan, saat technical meeting, siswa yang hadir bahkan jauh lebih banyak dari jumlah yang ditentukan panitia.
“Saya umumkan untuk setiap mata lomba perwakilannya satu anak per kelas didampingi wali kelas. Ternyata sebelum saya masuk ke ruangan, semuanya sudah penuh,” katanya.
Karena jumlah peserta yang membludak, panitia akhirnya memindahkan kegiatan ke lapangan dan membatasi peserta technical meeting agar kegiatan dapat berlangsung tertib.
Desi menegaskan, tujuan utama perlombaan bukan semata-mata mengejar kemenangan.
Menurutnya, menang dan kalah merupakan bagian dari sebuah pertandingan. Karena itu, siswa yang menang diharapkan mensyukuri prestasinya, sedangkan mereka yang kalah harus menjadikannya sebagai pengalaman untuk memperbaiki diri.
“Yang saya harapkan dari kegiatan ini, kita tidak hanya mencari juara. Kalah menang itulah pertandingan perlombaan dan anak-anak tidak boleh merasa kecewa,” ujarnya.
Ia berharap seluruh siswa dapat menjaga kekompakan dan meningkatkan sportivitas selama kegiatan berlangsung.
“Tidak ada rasa ego, tetapi harus ada rasa tanggung jawab dalam diri mereka, dengan semangat kemerdekaan yang mereka miliki,” tegasnya.
Untuk penghargaan, panitia menyiapkan sejumlah hadiah hiburan berupa buku dan alat tulis, serta piala bagi para juara. Sementara penghargaan untuk juara dua dan tiga disesuaikan dengan sumber anggaran yang tersedia melalui dana BOS.
Desi mengatakan, keterbatasan anggaran tidak menjadi penghalang bagi sekolah untuk menghadirkan kegiatan yang dapat dinikmati seluruh warga sekolah.
“Artinya tidak sebanyak, tetapi semuanya bisa menikmati dalam kebersamaan,” pungkasnya.
✒️: kl
