Kupang, NTT– Universitas Persatuan Guru (UPG) 1945 Nusa Tenggara Timur (NTT) terus memperkuat komitmennya dalam mencetak calon guru yang profesional, berkarakter, adaptif, dan mampu memberikan dampak nyata bagi dunia pendidikan. Komitmen tersebut ditegaskan Rektor UPG 1945 NTT, Uly Riwu Kaho, SP., M.Si, saat memberikan pembekalan kepada 260 mahasiswa peserta Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) yang akan ditempatkan di 17 sekolah mitra di wilayah Kota Kupang, di Aula Eltari UPG 1945 NTT, Senin (3/8/2026).
Sebanyak 260 mahasiswa tersebut berasal dari lima program studi, yakni Pendidikan Jasmani, Kesehatan, dan Rekreasi (PJKR) sebanyak 101 mahasiswa, Bimbingan dan Konseling (44 mahasiswa), Pendidikan Bahasa Indonesia (43 mahasiswa), Pendidikan Sejarah (43 mahasiswa), serta Pendidikan Bahasa Inggris (29 mahasiswa). Dalam kesempatan itu, Rektor menekankan lima pilar utama yang harus menjadi pegangan mahasiswa selama menjalani PPL sebagai bekal menjadi pendidik yang profesional, berintegritas, dan mampu menjawab tantangan pendidikan di era modern.
Uly Riwu Kaho menegaskan bahwa PPL bukan sekadar mata kuliah yang wajib ditempuh dalam kurikulum, melainkan laboratorium nyata untuk membentuk calon guru yang memiliki kompetensi akademik, karakter, etika, serta kemampuan beradaptasi dengan perkembangan zaman.
Menurutnya, semangat tersebut sejalan dengan visi Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi yang mengusung konsep "Pendidikan Tinggi Berdampak." Karena itu, UPG 1945 NTT mengimplementasikan semangat tersebut melalui slogan "UPG Berdampak", di mana setiap mahasiswa diharapkan mampu menghadirkan manfaat nyata bagi sekolah dan masyarakat selama menjalankan PPL.
Ia menegaskan bahwa guru tidak hanya bertugas mentransfer ilmu pengetahuan, tetapi juga mendidik melalui keteladanan. Apa yang dilakukan seorang guru akan lebih mudah ditiru peserta didik dibandingkan apa yang hanya disampaikan melalui kata-kata.
Dalam pembekalan tersebut, Rektor memaparkan lima pilar yang menjadi fondasi utama bagi mahasiswa peserta PPL. Pilar pertama adalah profesionalisme, yakni memiliki perencanaan pembelajaran yang matang, disiplin, bertanggung jawab, memiliki empati terhadap peserta didik, serta membiasakan diri melakukan evaluasi dan refleksi terhadap proses pembelajaran.
Pilar kedua adalah etika profesi. Mahasiswa diminta menjaga sikap, perilaku, dan komunikasi selama berada di sekolah, membangun hubungan yang sehat dengan guru, kepala sekolah maupun peserta didik, menghindari tindakan yang berpotensi menimbulkan pelanggaran etika, bijak menggunakan media sosial, serta menjauhi segala bentuk kekerasan, perundungan, maupun diskriminasi.
Pilar ketiga adalah modernisasi pembelajaran. Menurut Rektor, guru masa depan harus mampu memanfaatkan teknologi digital dan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) secara bijaksana untuk menghadirkan pembelajaran yang kreatif, inovatif, kontekstual, bermakna, dan menyenangkan. Guru juga dituntut terus belajar agar mampu mengikuti perkembangan teknologi dan tidak tertinggal dari peserta didiknya.
Pilar keempat adalah membangun budaya sekolah yang aman dan nyaman. Mahasiswa diminta menghormati keberagaman, menjunjung tinggi nilai-nilai spiritual, menghindari diskriminasi berdasarkan agama, suku maupun latar belakang sosial, serta tidak membanding-bandingkan kemampuan peserta didik karena setiap anak memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang.
Sementara pilar kelima adalah menjadi agen perubahan. Mahasiswa diharapkan mampu menghadirkan inovasi, memberi manfaat bagi sekolah, serta membangun kolaborasi yang baik dengan dosen pembimbing lapangan, guru pamong, kepala sekolah, tenaga kependidikan, dan seluruh warga sekolah.
Rektor juga mengungkapkan bahwa pelaksanaan PPL tahun sebelumnya mendapat apresiasi dari berbagai kepala sekolah. Mahasiswa UPG dinilai memiliki etika, disiplin, sopan santun, dan mudah bekerja sama. Karena itu, ia meminta peserta PPL tahun ini mempertahankan bahkan meningkatkan reputasi tersebut dengan menunjukkan sikap rendah hati, tanggung jawab, dan semangat melayani selama berada di sekolah.
Selain menjalankan tugas mengajar, mahasiswa juga didorong memanfaatkan pengalaman di lapangan untuk mengidentifikasi berbagai persoalan pendidikan yang dapat dijadikan bahan penelitian maupun tugas akhir. Menurutnya, kesempatan tersebut harus dimanfaatkan agar mahasiswa mampu menyelesaikan studi tepat waktu sekaligus menghasilkan karya ilmiah yang memberikan solusi bagi dunia pendidikan.
Mengakhiri pembekalan, Uly Riwu Kaho menyampaikan tiga pesan utama kepada seluruh peserta PPL, yakni memiliki rasa takut akan Tuhan sebagai dasar dalam berpikir dan bertindak, selalu menyusun perencanaan yang matang sebelum melaksanakan setiap kegiatan, serta membangun semangat kolaborasi karena tidak ada keberhasilan yang dicapai seorang diri.
Ia berharap seluruh mahasiswa kembali dari lokasi PPL sebagai calon guru yang semakin matang, profesional, berkarakter, berintegritas, serta mampu memberikan dampak positif bagi sekolah, masyarakat, dan kemajuan pendidikan di Nusa Tenggara Timur maupun Indonesia.
"Mengajarlah dengan pengetahuan, mendidiklah dengan keteladanan, dan layanilah setiap murid dengan hati," pesan Uly Riwu Kaho menutup pembekalan.
✒️: kl
