Manggarai Timur, NTT, 1-September 2026— Hampir sebulan setelah gempa bumi berkekuatan 7,7 SR mengguncang Flores, pelayanan kesehatan bagi masyarakat terdampak bencana masih menjadi kebutuhan mendesak.
Di tengah keterbatasan akses dan kondisi sejumlah wilayah yang belum sepenuhnya pulih, Persekutuan Pelayanan Kristen untuk Kesehatan di Indonesia (PELKESI) memilih turun langsung menjangkau warga hingga ke pelosok.
Sejak 19 Agustus 2026, PELKESI mengerahkan tim relawan kesehatan bersama mobile clinic untuk memberikan pelayanan kesehatan secara gratis kepada para penyintas gempa.
Bukan hanya mendatangi wilayah yang mudah dijangkau, tim ini juga menyusuri kampung-kampung dengan akses yang tidak mudah, terutama di wilayah Kecamatan Elar dan Rana Mese, Kabupaten Manggarai Timur.
Koordinator Relawan PELKESI Manggarai Timur, Bonifasius Masri, mengatakan pelayanan tersebut merupakan bagian dari mandat organisasi untuk memastikan masyarakat terdampak bencana tetap memperoleh layanan kesehatan.
Pelayanan yang diberikan meliputi pemeriksaan kesehatan gratis, pemberian obat-obatan secara cuma-cuma hingga edukasi mengenai kesiapsiagaan kesehatan mental pascabencana.
"Kami melayani mulai dari anak-anak, dewasa hingga lansia. Untuk sementara pelayanan difokuskan di beberapa kampung di wilayah Kecamatan Elar dan Rana Mese dengan menggandeng Puskesmas di setiap wilayah yang kami kunjungi," kata Bonifasius.
Menurutnya, pelayanan tersebut dilakukan untuk memastikan masyarakat terdampak tetap mendapatkan hak atas pelayanan kesehatan yang layak dan berkualitas meski berada dalam situasi pascabencana.
Pelayanan PELKESI, kata dia, tidak berhenti di satu lokasi. Tim akan terus bergerak menuju wilayah lain yang membutuhkan dukungan pelayanan kesehatan di Manggarai Timur.
Dari pelayanan langsung di lapangan, tim menemukan berbagai keluhan kesehatan yang dialami masyarakat setelah bencana.
Kondisi pascagempa dan lingkungan tempat tinggal yang berubah turut meningkatkan kerentanan masyarakat terhadap berbagai gangguan kesehatan.
"Pasca gempa banyak masyarakat mengalami banyak jenis penyakit, baik penyakit menular maupun tidak menular. Juga anak-anak mengalami flu dan batuk," jelas Bonifasius.
Kondisi tersebut menjadi perhatian PELKESI karena pemulihan pascabencana tidak hanya menyangkut pembangunan kembali rumah maupun fasilitas umum, tetapi juga pemulihan kesehatan masyarakat secara menyeluruh.
PELKESI juga melihat bahwa dampak gempa tidak hanya meninggalkan persoalan fisik.
Trauma, kecemasan dan tekanan psikologis menjadi persoalan lain yang perlu mendapat perhatian, terutama bagi warga yang kehilangan tempat tinggal atau mengalami kerusakan rumah akibat gempa.
Karena itu, pelayanan berikutnya tidak hanya diarahkan pada kesehatan fisik.
"Ke depan PELKESI juga akan membangun kekuatan mental penyintas pasca gempa dengan menghadirkan dokter psikolog," ungkap Bonifasius.
Langkah ini dinilai penting agar proses pemulihan masyarakat tidak berhenti pada pemberian obat, tetapi juga menyentuh kondisi psikologis para penyintas.
Dalam menjalankan pelayanan, PELKESI melakukan koordinasi dengan pemerintah daerah, BPBD, Dinas Kesehatan, Puskesmas, pemerintah desa serta pihak terkait lainnya.
Koordinasi dilakukan agar pelayanan kesehatan dapat menjangkau masyarakat yang benar-benar membutuhkan dan tidak berjalan sendiri-sendiri di lapangan.
Kolaborasi dengan Puskesmas juga menjadi bagian penting karena tenaga kesehatan di tingkat lokal memiliki pemahaman mengenai kondisi dan kebutuhan masyarakat di wilayah masing-masing.
Kehadiran tim kesehatan hingga ke pelosok mendapat apresiasi dari masyarakat.
Salah seorang warga Desa Rana Gapang, Kecamatan Elar, mengaku bersyukur karena tim PELKESI bersama Puskesmas Elar datang langsung memberikan pemeriksaan dan obat-obatan secara gratis.
"Syukur dan terima kasih kepada Tim PELKESI dan Puskesmas Elar yang telah rela mengunjungi kami dalam hal pemeriksaan gratis serta memberikan kami obat-obatan gratis pula. Kiranya Tuhan membalas semua kebaikannya ini," ujarnya.
Bagi warga di wilayah yang aksesnya masih terbatas, kedatangan tim kesehatan bukan sekadar pelayanan medis.
Kehadiran tersebut menjadi bentuk nyata bahwa mereka tidak dilupakan dalam proses pemulihan pascagempa.
Di tengah jalan yang rusak dan kondisi wilayah yang belum sepenuhnya pulih, mobil klinik PELKESI terus bergerak dari satu kampung ke kampung lainnya.
Obat-obatan dibawa langsung mendekati masyarakat.
Pemeriksaan dilakukan di tengah keterbatasan fasilitas. Edukasi kesehatan diberikan kepada warga agar mampu menjaga kondisi kesehatan selama masa pemulihan.
Hampir sebulan pascagempa, kebutuhan masyarakat terdampak masih jauh dari selesai.
Karena itu, pelayanan kesehatan bergerak seperti yang dilakukan PELKESI menjadi bagian penting dalam memastikan warga di pelosok tetap memperoleh perhatian.
Lebih dari sekadar membawa obat dan pemeriksaan gratis, langkah tersebut membawa pesan bahwa pemulihan Flores harus menyentuh semua lapisan masyarakat.
Ketika akses sulit ditembus, PELKESI justru datang. Ketika penyintas masih trauma, mereka membawa pelayanan sekaligus harapan.
Pelayanan tersebut menjadi gambaran nyata bahwa di tengah bencana, kepedulian dan kemanusiaan masih terus bergerak dari kampung ke kampung.
✒️:***
