Kota Kupang, NTT — UPTD SD Inpres RSS Oesapa, Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), memperkuat persiapan akademik 79 siswa kelas VI menjelang pelaksanaan Tes Kemampuan Akademik (TKA). Sekolah memberikan perhatian khusus pada kemampuan matematika, literasi, dan numerasi melalui latihan soal serta pendampingan intensif oleh guru.
Kepala UPTD SD Inpres RSS Oesapa, Leonard Roi, mengatakan, persiapan dilakukan secara bertahap untuk membantu siswa menghadapi soal-soal TKA yang menuntut kemampuan berpikir dan bernalar tingkat tinggi atau Higher Order Thinking Skills (HOTS).
Menurut Leonard, kesiapan siswa saat ini belum sepenuhnya mencapai 100 persen. Karena itu, sekolah terus mendorong motivasi belajar dan membiasakan siswa mengerjakan soal yang sesuai dengan karakteristik TKA.
"Kami masih terus menggenjot, mendorong, dan memotivasi mereka. Ibarat hendak maju berperang, kita harus menyiapkan senjata terlebih dahulu," kata Leonard saat ditemui di Kupang, Senin (19/10/2026).
Tryout TKA di sekolah tersebut dijadwalkan berlangsung pada 27–28 Oktober 2026. Sebanyak 79 siswa dipersiapkan untuk mengikuti kegiatan tersebut dengan dukungan guru dan orang tua.
Leonard mengungkapkan, matematika menjadi salah satu mata pelajaran yang dirasakan sulit oleh siswa. Kesulitan itu terutama muncul karena siswa belum terbiasa mengerjakan soal-soal yang menuntut kemampuan bernalar tingkat tinggi.
Berdasarkan hasil evaluasi sebelumnya, nilai matematika terendah yang ditemukan mencapai 40. Sementara itu, sejumlah siswa mampu memperoleh nilai sekitar 80.
Hasil tersebut menjadi bahan evaluasi bagi sekolah untuk memperkuat pembelajaran, khususnya pada materi yang masih sulit dipahami siswa.
"Kami berharap tahun ini nilai siswa dapat meningkat. Kalau sebelumnya ada yang memperoleh nilai 80, kami berharap hasil berikutnya bisa mencapai 83 atau lebih baik lagi," ujar Leonard.
Ia menegaskan, peningkatan hasil belajar tidak dapat dicapai secara instan. Sekolah perlu memastikan siswa mendapatkan kesempatan belajar dan berlatih secara konsisten sebelum menghadapi ujian.
Untuk mendukung persiapan tersebut, guru kelas berkomunikasi dengan siswa dan memberikan latihan soal secara rutin. Sekolah juga memetakan ketersediaan perangkat, termasuk telepon genggam berbasis Android dan laptop, untuk menunjang pelaksanaan tryout.
Orang tua dilibatkan dalam proses persiapan agar kebutuhan perangkat dan waktu belajar anak dapat terpenuhi.
Selain mempersiapkan siswa kelas VI menghadapi TKA, UPTD SD Inpres RSS Oesapa memperkuat kemampuan dasar membaca dan berhitung melalui program Gerakan Literasi Sabtu (Gelisa) dan Gerakan Numerasi Sabtu (Genusa).
Program Gelisa diperuntukkan bagi siswa kelas I, II, dan III. Adapun Genusa menyasar siswa kelas IV, V, dan VI.
Menurut Leonard, program tersebut dirancang untuk meningkatkan kemampuan siswa berdasarkan kebutuhan masing-masing jenjang kelas.
Untuk siswa kelas I, misalnya, sekolah menerapkan metode reading game atau permainan membaca. Metode ini digunakan untuk membantu siswa yang belum lancar membaca agar lebih mudah mengembangkan kemampuan literasinya.
Adapun siswa kelas VI yang masih mengalami kesulitan numerasi mendapatkan pendampingan khusus, terutama pada materi pecahan desimal dan pecahan campuran.
Sekolah juga menerapkan pembelajaran remedial bagi siswa yang belum menguasai materi tertentu. Sementara itu, siswa yang sudah mencapai kemampuan yang diharapkan diberikan tugas tambahan dengan tingkat kesulitan lebih tinggi.
"Anak-anak yang belum bisa kami petakan untuk mendapatkan pendampingan khusus. Sementara itu, siswa yang sudah mampu kami berikan tugas tambahan dengan tingkatan yang lebih tinggi," kata Leonard.
Ia menilai, pemetaan kemampuan siswa menjadi penting agar pendampingan yang diberikan sesuai dengan kebutuhan mereka, bukan sekadar menyamaratakan materi pembelajaran.
Leonard mengatakan, sekolah juga mempersiapkan kebutuhan teknis karena pelaksanaan TKA akan dilakukan secara mandiri dan dipantau oleh dinas terkait.
Sekolah berupaya mengantisipasi kemungkinan kendala melalui koordinasi dengan guru dan orang tua, termasuk memastikan ketersediaan perangkat pendukung.
Menurut dia, persiapan yang dilakukan memang belum menjamin seluruh proses berjalan tanpa hambatan. Namun, langkah tersebut diharapkan dapat meminimalkan kendala saat pelaksanaan tryout.
Dengan waktu persiapan yang tersisa, sekolah terus mendorong siswa agar lebih percaya diri menghadapi soal-soal TKA, terutama pada materi yang selama ini dianggap sulit.
Bagi sekolah, tryout tidak hanya menjadi sarana mengukur kemampuan siswa, tetapi juga menjadi bahan evaluasi untuk menentukan materi yang masih perlu diperkuat sebelum pelaksanaan TKA.
✒️: kl
